Berita Kalteng

Ini Penjelasan BOSF Soal Pelepasan Sepuluh Orangutan Jelang HUT ke 73 RI

Penjelasan , Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS, Bulan Agustus punya makna khusus bagi kami karena bangsa Indonesia

Ini Penjelasan BOSF Soal Pelepasan Sepuluh Orangutan Jelang HUT ke 73 RI
Yayasan BOSF
Petugas melepasliarkan orangutan di Hutan Taman Nasional Katingan, Kalteng. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Ada makna dan maksud tersendiri dari Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) dalam menentukan pelepasliaran sepuluh orangutan hasil rehabilitasi jelang HUT Kemerdekaan RI di Taman Nasional Bukit Raya Katingan, Rabu (15/8/2018).

Penjelasan , Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS, Bulan Agustus punya makna khusus bagi kami karena bangsa Indonesia lagi memperingati kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus.

Sementara, pelaku konservasi juga merayakan Hari Orangutan di bulan yang sama. "Jadi kami ingin mendedikasikan bulan ini sebagai ‘bulan kebebasan, kemerdekaan bagi orangutan," ujarnya.

Baca: Berlaku Hanya Hari Ini! Begini Cara Dapat Kuota 25 GB Telkomsel dengan hanya Rp 90 Ribu

Baru bulan Juli lalu , pihaknya juga bekerja bersama mengembalikan 13 orangutan ke hutan TNBBBR di Katingan. "Tapi kami punya target melepasliarkan 100 orangutan ke hutan tahun ini, dan kami berusaha keras untuk mewujudkan itu," ujarnya.

Baca: Sepuluh Orangutan Yayasan BOS Palangkaraya Dilepas ke Hutan Jelang HUT ke-73 RI

Petugas memeriksa kesehatan orangutan sebelum melepasliarkan orangutan di Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kabupaten Katingan, Kalteng.
Petugas memeriksa kesehatan orangutan sebelum melepasliarkan orangutan di Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kabupaten Katingan, Kalteng. (Yayasan BOSF)

Dia menegaskan, tidak ada kata bersantai bagi penyelamatan orangutan. Apalagi, saat ini, ada berita mengenai mulai maraknya kebakaran hutan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan, dua pulau tempat orangutan hidup.

Jamartin, mengharapkan, komitmen terhadap pelestarian alam, khususnya hutan, beserta isinya, dalam hal ini orangutan. Karena, tingkat kerusakan hutan selalu terjadi paling tinggi saat musim kebakaran hutan.

Baca: 6 Orang Terdiri Kakek, Nenek Cucu dan Sepupu Dibakar Hidup-hidup Oleh Kartel Narkoba Makassar

"Namun jangan diartikan kami gegabah melepasliarkan orangutan ke hutan di tengah musim kering yang berpotensi bahaya ini, karena hutan alami di TNBBBR adalah taman nasional yang pengamanannya terjamin," ujarnya.

Bersama tim Yayasan BOSF, staf TNBBBR secara rutin mengadakan patroli untuk menjaga keamanan hutan dan keanekaragaman hayati di taman nasional ini. "Mari kita bersama jaga wilayah hutan agar selalu aman dan bisa bermanfaat optimal bagi kehidupan seluruh makhluk hidup, termasuk manusia sendiri, " ujarnya.

Sementara itu, Adib Gunawan, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, mengatakan, Kerja konservasi adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu panjang dan partisipasi dari semua pihak terkait.

BKSDA Kalimantan Tengah terus bekerja sama dengan Balai TNBBBR, USAID LESTARI, dan Yayasan BOS untuk melepasliarkan orangutan hasil rehabilitasi.

Pelepasliaran yang kesebelas kalinya di hutan TNBBBR di Kabupaten Katingan ini akan menjadikan jumlah populasi orangutan di hutan tersebut menjadi 102, sebuah angka yang luar biasa hasil kerja keras banyak pihak selama 2 tahun penuh.

"Harus dipahami semua orang selayaknya terlibat dalam upaya konservasi sumber daya alam. Satwa liar sebagai bagian dari sumber daya alam hayati berperan aktif dalam menjaga kualitas hutan," ujarnya.

(www.banjarmasinpost.co.id/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved