Banjarmasin Darurat Limbah Medis

Wali Kota Ibnu Sina akan Bangun Incinerator di TPA Basirih untuk Atasi Limbah Medis

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina bukan tidak mengetahui permasalahan limbah medis di kota Banjarmasin

Wali Kota Ibnu Sina akan Bangun Incinerator di TPA Basirih untuk Atasi Limbah Medis
Harian Banjarmasin Post Edisi Kamis (16/8/2018) Halaman 1 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina bukan tidak mengetahui permasalahan limbah medis di kota Banjarmasin Dia menyadari banyaknya sampah medis di Banjarmasin membuat RSUD Ulin kuwalahan memusnahkannya. Apalagi, RSUD Ulin sulit tidak bisa lagi menerima sampah medis dari luar.

“Mereka juga perlu memusnahkan sampah medis dari lingkungannya. Inilah yang saya bilang, mengapa Banjarmasin darurat sampah medis. Apalagi, tak semua rumah sakit yang ada di Banjarmasin memiliki incinerator,” ucapnya.

Ibnu mengaku sudah berencana membangun incinerator. Terlebih jika nantinya RSUD Sultan

Suriansyah beroperasi pada 2019 nanti. Pihaknya sudah menganggarkan Rp 50 miliar melalui APBD 2019 untuk melanjutkan pembangunan RSUD Sultan Suriansyah.

“Selain fisik, rencananya anggaran itu juga untuk membangun incinerator,” beber Ibnu.

Baca: Jadwal Siaran Langsung (Live) SCTV Timnas U-23 Indonesia vs Laos di Asian Games 2018, Menang!

Baca: Ayu Ting Ting Cemburu Kemesraan Raffi Ahmad & Nagita Slavina, Nunki Nilasari: Gimmick yang Sempurna

Baca: RSUD Ulin Tak lagi Terima dari Luar, Banjarmasin Darurat Limbah Medis karena Ini

Pasalnya, sebut dia, syarat mendirikan rumah sakit harus tersedia incinerator.

Kerena RSUD Ulin dan RSUD M Ashari Saleh (MAS) tak lagi menerima sampah medis dari luar, praktis, Pemko Banjarmasin memikirkan cara untuk membuang sampah medis rumah sakit.

Selain itu, 26 puskesmas di Kota Banjarmasin masih bergantung pada incinerator di RSUD Ulin Banjarmasin.

“Kita rencanakan incinerator dibangun di tempat pembuagan akhir (TPA) Basirih,” ungkap Ibnu.
Sebenarnya, sebut dia, sempat direncanakan membangun incinerator di RSUD Sultan Suriansyah, karena berdekatan dengan fisik rumah sakit. Namun, lanjut dia, hal itu tak memuhi syarat pembangunan incinerator.

Kata Ibnu, syarat minimum jarak pembangunan incinerator harus 30 meter dari pemukiman warga. “Karena di sana padat, jadi tidak mungkin membangun berdekatan dengan rumah sakit, sehingga pilihannya ke TPA Basirih,” imbuhnya. (lis/wie)

(Baca lebih lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Kamis (16/8/2018) atau ePaper BPost

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help