Fikrah

Proklamasi Kemerdekaan RI

Teks proklamasi yang dibacakan Soekarno-Hatta berbunyi: Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan RI
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

TEPAT hari Jumat, 17 Agustus 1945 M - 9 Ramadan 1364 H (ada yang mengatakan bertepatan 17 Ramadan 1365 H), pukul 10.00 pagi di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, dilanjutkan pengibaran Sang Saka Merah Putih hasil jahitan Ibu Fatmawati, menandakan Indonesia merdeka.

Teks proklamasi yang dibacakan Soekarno-Hatta berbunyi: Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 1945. Atas nama Bangsa Indonesia Soekarno-Hatta.

Hari ini Jumat, tepat 17 Agustus 2018, berarti usia kemerdekaan RI mencapai 73 tahun. Jarang sekali tanggal 17 Agustus jatuh pada hari Jumat seperti hari ini. Syahrir menginginkan proklamasi diumumkan 15 Agustus, dan PPKP mengusulkan 16 Agustus; tetapi Soekarno tidak mengumumkan, malah memilih 17 Agustus.

Apakah beliau ingin menyeleraskan dengan hari baik (sayyidul-ayyam), bahkan tepat 17 Ramadan hari turunnya awal Alquran kepada Nabi Muhammad SAW; bahkan dengan 17 rakaat salat yang diwajibkan setiap hari kepada umat Islam, wallahu ’alam.

Orang beriman percaya, tidak ada sesuatu yang terjadi kebetulan, tetapi ada Sang Maha Gaib Yang mengaturnya. Angka tujuh belas mudah diingat dengan tujuh belas rakaat salat dan Alquran yang turun pada tujuh belas Ramadan dibaca menjadi huda (petunjuk) bagi penghuni bumi Nusantara ini.

Hati kecilku berharap dengan peringatan 17 Agustus yang diadakan setiap tahun, jangan sampai tujuh belas raka’at salat menjadi tumbang hanya karena memanjat pohon pinang; dan aluran gema azan terkesampingkan karena kelelahan mengikuti berbagai lomba keramaian; lebih-lebih anak muda bangsa ini yang diharapkan dapat mengisi kemerdekaan dengan prestasi pada berbagai bidang kehidupan.

Dalam rangka menyambut hari proklamasi, di waktu muda aku pernah membuat sebuah puisi berjudul “Memanjat Pohon Pinang,” selengkapnya :

Dahulu, ayahku memanggul senjata dari bambu runcing sampai bazoka, ayahku meneriakkan kata merdeka di antara desingan peluru dan dentuman senjata, ayahku mandi keringat bersimbah darah.

Ibuku melahirkan aku, membuai dan membesarkanku, ibuku menanak nasi berurai airmata, merajut hidup dalam bayang-bayang duka-derita.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved