Mereka Bicara

Bung Karno, Bhinneka Tunggal Ika dan Bahasa Persatuan

Baginya, kebhinnekaan adalah das sein suatu kebenaran realitas, sedangkan ‘tunggal ika’ adalah das sollen yakni suatu kebenaran ideal.

Bung Karno, Bhinneka Tunggal Ika dan Bahasa Persatuan
net
Seokarno 

Pergerakan nasional di daerah ini kurang mengesankan. Untuk mengatasi kesulitan tersebut – visi persatuan Indonesia – Bung Karno diminta pergi ke Makasar pada bulan Mei 1945 dan Bung Hatta ke Banjarmasin sekitar bulan Juni 1945 untuk melakukan persiapan-persiapan di wilayah yang dikuasai Angkatan Laut itu (idem: Shigethada Nishejimah). Dari fakta sejarah ini dapat diduga bahwa sedikit atau banyak tentu ada pengaruhnya bagi Bung Karno ketika ia mengusulkan sila Persatuan Indonesia sebagai sila pertama Pancasila pada pidato 1 Juni 1945.

Ketika Bung Karno menjadi Presiden pertama Indonesia dengan dinamika politik yang tinggi beliau menyadari betul bahwa Indonesia sebagai negara baru pascaperang Dunia II rawan terjadi disintegrasi nasional karena sifat kebhinnekaan masyarakatnya sebagai warisan sejarah yang belum terkonsolidasi dengan baik.

Karena itu dalam fase ini Bung Karno selalu menekankan pentingnya “nation and character building”. “one nation and one state building” yang sering dikemukakan melalui amanatnya. Salah satu ilustrasi yang sering dikemukakan melalui amanat-amanatnya adalah lidi yang kalau diikat menjadi satu akan kuat, sulit dipatahkan dari pada kalau terpisah-pisah. Bung Karno pulalah yang pertama-tama memperkenalkan barisan Bhinneka Tunggal Ika dalam acara-acara penerimaan tamu-tamu negara yang berkunjung ke Indonesia. Tradisi ini agaknya sekarang dilanjutkan oleh Presiden ke-7 Jokowi dalam menerima tamu-tamu negara yang berkunjung ke Indonesia dalam nuansa yang agak berbeda.

The Great Nation Builder
Ir H Soekarno dengan kharismanya dan dengan bakatnya sebagai orator ulung, jago pidato mempergunakan bahasa Indonesia untuk menggembleng semangat bangsa Indonesia, nasionalisme yang jadi perekat bangsa. Hal tersebut menjadikannya sebagai Pembina Agung suatu bangsa, bangsa Indonesia dengan kebhinnekaannya sebagai warisan proses perjalanan historis yang berbeda-beda di wilayah yang begitu luas dan terpecah-pecah dalam pulau-pulau besar dan kecil sebanyak lebih 17.000 (tujuh belas ribu buah), 18 (delapan belas) lingkungan adat, 250 (dua ratus lima puluh) bahasa daerah.
Karena itu, tidak terlalu salah kalau ada penganalisis Barat yang menyatakan Soekarno telah menempa suatu bangsa dengan bermodalkan bahasa Indonesia, baik lisan melalui rapat-rapat umum maupun tertulis melalui tulisan-tulisannya. Tiada pemimpin politik lain di dunia yang berbuat demikian. Soekarno adalah unik dalam hal ini.

Dengan bantuan alat bahasa ia menjelma sebagai Nation builder yang berhasil. (Rosihan Anwar: Sang Pelopor, hal 24/2012). Juga Soekarno sebagai seorang pencinta seni sangat menyukai keindahan, kesempurnaan (perfectionis), biasanya dalam amanat-amanatnya memakai ungkapan bahasa Indonesia terpilih yang mampu menjadi sumber inspirasi semangat dan pangkal tubuhnya “Sense of pride” (rasa kebanggaan) dan Sense of Obligation” (rasa kewajiban) bagi tanah airnya. Ingat saja tepuk tangan riuh ketika berpidato di depan sidang pleno I BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.

Tri Sakti Bung Karno dan Kekinian Kita
Pada era globalisasi dewasa ini dengan segala dampaknya baik positif maupun negatif keseluruhan anak bangsa perlu disadarkan lagi bahwa bahasa Indonesia, yang dikembangkan dari bahasa Melayu yang secara historis telah lama merupakan Lingua Franca, bahasa persatuan telah mantap statusnya sebagai lambang identitas nasional.

Sebagai kekuatan integratif, peranannya baru kita sadari apabila kita membuat perbandingan dengan negara-negara lain yang bahasa nasionalnya belum pada taraf kemantapan seperti bahasa Indonesia antara lain Fhilipina dan India (SartonoKartodirdjo: hal 25,26/1994). Kepada semua anak bangsa janganlah mengabaikan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik di dalam lingkungan publik maupun private.

Dalam kaitan ini perlu diingatkan bahwa para dosen, seluruh jajaran guru, mahasiswa sastrawan, penyiar-penyiar dan seluruh barisan komunikator di semua bidang perlu menyadari pentingnya peran mereka sebagai pengemban bahasa standar (Sartono –Idem) Akhirukalam marilah kita camkan doktrin Trisakti Bung Karno, Sakti ke-3, ”Berkepribadian di bidang kebudayaan” sesuai ungkapan “Bahasa menunjukkan Bangsa“ karena dengan bahasa diekspresikan jiwa dan kebudayaan yang mengungkapkan kepribadian bangsa serta identitas dan jati dirinya. Semoga demikian hendaknya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved