Berita Hulu Sungai Tengah

Kisah Kalung Benang yang Harus Dipakai Anak Hutan Meratus, Dipercaya Cegah Penyakit

Di pedalaman hutan Meratus tersebut semua anak, mulai umur tiga bulan sampai empat tahun mengenakan kalung terbuat dari benang.

Kisah Kalung Benang yang Harus Dipakai Anak Hutan Meratus, Dipercaya Cegah Penyakit
BANJARMASINPOST/HANANI
Anak-anak di Balai Adat Desa Datar Batung, dengan kalung benang yang selalu nempel di leher mereka. Mereka percaya memasang kalung benang dapat mencegah penyakit sehingga kalung tersebut baru dilepas sampai empat tahun. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Ada yang unik di Desa Datarbatung, Kecamatan Batangalai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel.

Di pedalaman hutan Meratus tersebut semua anak, mulai umur tiga bulan sampai empat tahun mengenakan kalung terbuat dari benang.

Benangnya, ada yang berwarna hitam, putih maupun cokelat. Benang bersimpul tersebut dipakai dengan buah kalung dari batu. Tapi ada juga yang tanpa buah kalung.

Baca: Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad Soal Vaksin MR, Orangtua di Barabai Tunggu Fatwa MUI

Menurut kepala Balai Adat setempat, Lasir, kalung benang merupakan tradisi masyarakat setempat yang sudah dipakaikan kepada anak-anak sejak berusia tiga bulan. Warga setempat memakaikan  kalung tersebut dengan tujuan mencegah berbagi penyakit.

“Sebab kalau tidak dipakai anak bisa sakit,” kata Lasir.

Amlia, Sirah, Anggo, Ferdi adalah anak-anak yang mengaku pernah sakit, karena pernah melepas kalung tersebut. “Sebenarnya tidak dilepas. Tapi karena kelamaan, benangnya putus,” kata Amlia.

Baca: Ingin Selamatkan Anaknya, Polisi Polres Banjar Tenggelam di Waduk Riam Kanan

Setelah dipakai lagi, anak-anak itu pun mengaku jarang  sakit. Dijelaskan, kalung benang itu dipakai sampai empat tahun, baru bisa dilepas. “Paling cepat empat tahun, baru boleh dilepas,” kata Lasir.

Kehidupan warga suku Dayak Meratus di Desa tersebut masih tradisional.

Menurut Kepala Desa setempat, Ramal, jika sakit, warga jarang berobat secara medis. Hal tersebut karena fasilitas pelayanan kesehatan, Pustu maupun Puskesmas jauh, hanya ada di Desa Batutangga yang jaraknya sekitar sembilan kilometer dari Datarbatung.

Baca: Prediksi & Link Live Streaming SCTV Timnas U-23 Indonesia vs Hong Kong di Asian Games 2018

Kunjungan tenaga kesehatan, diakui ada, namun tidak begitu sering karena untuk mencapai desa mereka cukup sulit, meski bisa dicapai menggunakan kendaraan roda dua.

“Kalau sakit keras, biasanya diobati pakai ramuan tradisional selain diobati pemuka adat,”ungkap Ramal. (banjarmasinpost.co.id/hanani) 

Penulis: Hanani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help