Opini

Berkurbankah Kita Tahun Ini? (Refleksi Iduladha 1439 H)

Barangkali yang tersisa dari rasa sayang manusiawinya hanyalah yang menampak dari pemberitahuannya kepada sang putera;

Berkurbankah Kita Tahun Ini? (Refleksi Iduladha 1439 H)
banjarmasinpost.co.id/fadly
Penyerahan simbolis oleh Danlanal Banjarmasin Letkol Laut (P) Oky IZ Dipura SH kepada ketua panitia kurban Lanal Banjarmasin Mayor Laut (PM) Arsyad AMd. 

Oleh: PRIBAKTI B Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Bayangkan Anda telah demikian lama ingin mempunyai anak. Kemudian setelah hampir putus asa, Allah menganugerahi seorang anak yang luar biasa cantik. Anak itu kemudian tumbuh sebagai anak yang baik dan pintar. Kemudian setelah remaja, tiba-tiba anak itu meninggal. Bagaimana perasaan Anda?

Seperti diketahui Nabi Ibrahim-alaihis salaam (as) sudah lama ingin mempunyai anak dan baru ketika usianya telah sangat tua, Allah menganugerahi seorang anak yang tampan dan pintar. Nabi Ismail dan cerita selanjutnya tentu kita sudah tahu. Nabi Ismail tak hanya meninggal tapi sang ayah diminta untuk menyembelihnya. Anda pasti tidak bisa membayangkannya. Bagaimana seorang ayah yang sudah lama mendambakan anak, ketika dambaan itu akhirnya terwujud dan si anak sudah didepan mata, disuruh menyembelih.

Bagi kacamata kita, terutama di zaman now ini, hal itu tentu sangat musykil. Antara lain karena kita sudah terbiasa dengan sikap kemilikan, suka memiliki. Jangankan yang milik kita sendiri, milik orang lain pun sering kali kita ingin memiliki atau kalau bisa kita rampas untuk kita sayang-sayang. Adakah hak milik yang lebih berharga dan lebih kita sayangi melebihi anak, belahan hati?

Tapi, bagi Nabi Ibrahim hal itu sama sekali tidak merasa musykil. Karena bagi sang kekasih Allah itu, gerak-gerik lahir maupun batinnya berawal dari kekasih Agungnya, Allah SWT. Ialah yang pertama dan paling utama (bandingkan dengan umumnya kita yang memposisikan Allah paling belakang, biasanya setelah kepepet). Maka bukan Ismail belahan hatinya, bukan kenangan, pendambaaan dan kebahagiaannya bersama puteranya itu, bukan perintah menyembelihnya, bukan bayangan kehilangan sesudahnya dan bukan sesuatu apapun yang lain; yang pertama-tama saat diperintah-seperti setiap saat adalah sang kekasih yang memerintah.

Barangkali yang tersisa dari rasa sayang manusiawinya hanyalah yang menampak dari pemberitahuannya kepada sang putera;

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku , aku menyembelihmu; maka pertimbangkanlah, apa pendapatmu?” Jawaban nabi Ismail pun menunjukkan kualitasnya sebagai hamba Allah yang titik pandang dan pertimbangannya bermula dariNya. “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau akan mendapatkan Insya Allah termasuk orang-orang yang tabah.”

Sungguh dua pengorbanan agung dari dua hamba Allah yang begitu total kepasrahannya. Demi Tuhan mereka, yang satu mengikhlaskan miliknya yang paling disayang: anaknya; yang lain mengikhlaskan nyawanya sendiri. Maka adalah nyata apa yang mereka nyatakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milih Allah Tuhan semesta alam, tidak ada yang ikut memiliki bersamanya; dan dengan yang demikian itulah aku diperintah dan akulah yang pertama-tama menyerahkan diri kepadaNya”.

Alangkah jauhnya teladan itu dari kita. Sekadar mengorbankan sedikit saja dari apa yang kita anggap milik kita, rasanya berat bagi kita. Apalagi menyadari bahwa yang ada pada kita pada hakikatnya milik Allah semata. Kita memerlukan berbagai cara dan rekayasa dalam memotivasi diri kita untuk sekadar merelakan sebagian kecil milik kita.

Membeli seekor kambing saja, kadang-kadang kita harus menghitung-hitung dan mempertimbangkan dari berbagai sudut, dari segi untung rugi, dan lain sebagainya. Seringkali setelah pertimbangan yang ruwet. Akhirnya kita tidak jadi membeli kambing. Kalaupun akhirnya jadi membeli untuk kurban demi Allah, kitapun memasang harapan pahala berlipat ganda.

Itu tidak hanya yang berkaitan dengan harta milik kita yang bersifat materi. Di luar itu, ada yang lebih tidak tersadari oleh kebanyakan kita. Acap kali untuk memenuhi perintah Allah, kita begitu bathil berkorban. Misalnya untuk memenuhi perintah persaudaraan, kita enggan mengorbankan sedikit penghormatan kepada sikap orang lain atau sekadar mendengarkan pendapatnya.

Semua orang Islam yang berhaji, sudah pasti mendambakan ibadah hajinya mabrur. Ironinya, karena keinginan yang begitu besar mendapatkan haji mabrur, banyak yang enggan berkorban bagi kepentingan mulia lain yang juga diperintahkan Allah atau bagi menjauhi laranganNya. Tengoklah mereka yang bertengkar berebut shaf salat atau tempat-tempat mustajab. Atau yang lebih parah lagi, tengoklah mereka yang mati-matian berusaha mencium Hajar Aswad itu. Tidak satu pun di antara mereka yang rela berkorban untuk saudaranya sesama muslim, bahkan perilaku mereka yang menyikut kesana kemari itu, mengesankan seolah-olah mereka sedang melakukan jihad fisabilillah dan menganggap saudara –saudara mereka yang lain adalah musuh-musuh mereka.

Akhirnya, dalam memaknai Hari Raya Iduladha kali ini, pelajaran penting yang bisa diambil bahwa menjadi orang yang terlalu mencintai apa yang dianggap miliknya--termasuk dirinya, pendapat dan pendiriannya sendiri--sangat sukar dibayangkan dapat membuktikan cintanya kepada Allah melalui pengorbanan yang tulus.

Maka sikap terbaik seperti yang diajarkan pemimpin agung kita Nabi Muhammad SAW ialah sikap sederhana, selalu tengah-tengah dalam segala hal termasuk dalam mencintai dan membenci. Dengan demikian kita akan dapat memurnikan pemujaan kita kepadaNya sendiri dan ringan berkorban untukNya. Selamat Hari Raya Iduladha 1439 H. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help