Berita Tapin

Keluhkan Murahnya Harga Karet, Petani Terpaksa Lakukan ini Demi Kuliahkan Anak

Adalah Abdul Kadir (46) meskipun sebagai buruh petani karet yang penghasilannya cukup minim, dia tetap menyekolahkan anaknya

Keluhkan Murahnya Harga Karet, Petani Terpaksa Lakukan ini Demi Kuliahkan Anak
banjarmasinpost.co.id/m elhami
Petani karet 

BANJARMASINPOST.CO.ID. RANTAU - Adalah Abdul Kadir (46) meskipun sebagai buruh petani karet yang penghasilannya cukup minim, dia tetap menyekolahkan anaknya bahkan satu orang hampir selesai kuliah.

"Harga karet perkilo sekitar Rp 6.000," jelas Abdul Kadir.

Harga ini terlampau murah sehingga petani terkadang merugi.

Harga yang ideal itu, kata Abdul Kadir, Rp 10.000 perkilo.

Baca: Doa Buka Puasa Arafah Selasa 9 Dzulhijjah 1439 H atau 21 Agustus 2018 Menjelang Idul Adha 2018

Paling minim, Rp 8.000 perkilo, sehingga petani karet merasa lega.
Kalau Rp 6.000, dianggap pas-pasan bahkan rugi.

Abdul Kadir ditemui di lokasi kebun karetnya di Sragen, Tapin Selatan, Selasa (21/8/2018) pagi mengatakan penghasilannya perhari sekitar Rp 40 sampai 50 ribu.

Baca: Lowongan Kerja di PT Pelindo II untuk Fresh Graduate, Simak Informasi Selengkapnya

"Penghasilan Rp 50 ribu perhari itu rata-rata tidak cukup memenuhi keperluan rumah tanggal sehari," ucapnya.

Dirincikan Kadir, uang saku dua orang anak yang sekolah dan kuliah Rp 30.000.

Sisanya Rp 20.000 untuk beli kebutuhan pokok sehari-hari.

Baca: Tata Cara dan Niat Mandi Hari Raya Idul Adha 2018 dalam Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahannya

Demi mencukupi keperluan rumah tangga, kata Kadir, dirinya terkadang, setelah habis dari kebun, ikut jadi tukang bangunan.

"Saya berharap kepada pemerintah supaya harga karet ditinggikan dan kebutuhan dasar masyarakat jangan dinaikkan," pungkas Kadir

(banjarmasinpost/ibrahim ashabirin)

Penulis: Ibrahim Ashabirin
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved