Polemik Fatma MUI Soal Imunisasi MR

Tiga Alasan MUI Perbolehkan Penggunaan Vaksinasi MR, Walau Positif Mengandung Babi

MUI menyatakan, vaksin yang diimpor dari Serum Institute of India (SII) itu haram karena mengandung babi.

Tiga Alasan MUI Perbolehkan Penggunaan Vaksinasi MR, Walau Positif Mengandung Babi
Banjarmasin Post Edisi Cetak
Harian Banjarmasin Post Edisi Kamis (23/8/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Komisi Fatwa Majelis Ulama (MUI) Indonesia telah mengeluarkan fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang penggunaan vaksin measless dan rubella (MR) untuk imunisasi. MUI menyatakan, vaksin yang diimpor dari Serum Institute of India (SII) itu haram karena mengandung babi.

Namun, penggunaannya saat ini dibolehkan atau mubah karena keterpaksaan tidak ada vaksin alternatif yang halal. Ada tiga alasan kenapa MUI untuk sementara ini membolehkan penggunaan vaksin MR.

Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin, alasan tersebut yaitu pertama, adanya kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah). Kedua, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. Ketiga, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi vaksin MR.

"Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci," ucap Hasanuddin.

Baca: Dinkes Kalsel Tetap Lanjutkan Imunisasi MR Pasca-Fatwa MUI, Tak Paksa Masyarakat

Baca: Update Klasemen & Perolehan Medali Asian Games 2018 Usai Fajar/Rian Takluk, Melorot No 5

MUI pun merekomendasikan pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat. Produsen vaksin juga wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan menyertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

MUI juga mendorong pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan.

MUI juga menyarankan pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan negara-negara berpenduduk Muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal. Fatwa MUI ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Baca: Andai Habib Rizieq Dukung Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019, PAN Tak Gunakan Politik Identitas

Baca: Jadwal Siaran Langsung SCTV, Timnas U-23 Indonesia vs Uni Emirat Arab, Evan Dimas Ingin Revans

Jika di kemudian hari ternyata fatwa ini membutuhkan perbaikan, MUI akan memperbaiki dan menyempurnakan sebagaimana mestinya.

Berdasar data, Indonesia harus melakukan vaksinasi MR, sebab di antara negara dunia, masyarakat Indonesia berada dalam daftar 10 besar penyakit campak dan ini harus dicegah.  (lis/tribunnews/ogi)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved