Esai Zulfaisal Putera: Kemaksiatan Verbal

Lihat lah, ada yang gampang mencaci, menghasut, memfitnah, membuka aib, memancing kemarahan atau membuat ujaran kebencian.

Esai Zulfaisal Putera: Kemaksiatan Verbal
istimewa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - “Yang berprestasi malah kamu bully. Yang omong doang malah kamu gadang-gadang. Sebetulnya kamu itu lontong atau lemper, sih?”

Demikian bunyi status Facebook rekan Heru P Winarso, yang cukup menggelitik saya ketika membuka beranda pagi ini. Entah dilatarbelakangi apa hingga rekan saya itu bertanya dengan gaya satir semacam itu.

Walau tak disebutkan siapa yang disebut berprestasi dan siapa yang omong doang dalam narasi status tersebut, tapi dalam situasi kekinian dapat ditangkap siapa yang dimaksud.

Tapi, ada nada kekecewaan terlihat. Yang menarik, mengapa penulis status mengibaratkan orang yang mem-bully itu lontong atau lemper.

Baca: Update Klasemen & Perolehan Medali Asian Games 2018, Christopher/Sutjiadi Menang di Tenis, 10 Emas

Sudah lah, tak perlu dalam membahas soal lontong atau lemper. Kedua makanan khas Indonesia itu memang unik. Satu dibuat dari beras, satunya dari ketan, tapi sama dibungkus daun. Secara fisik, lemas dan dapat dikunyah tanpa memerlukan banyak ternaga.

Kondisi negeri ini sedang dibanjiri ‘lontong atau lemper’ boleh lah saya latah memakai istilah itu. Sebagian masyarakat tak mau susah-susah berbuat baik dan benar.

Sebagian lagi tetap berusaha di jalan yang benar, walau tetap dianggap tak benar. Ini bukan generalisasi, tapi dari yang muncul di media sosial adalah masyarakat kita suka main gampang saja. Risiko belakangan.

Lihat lah, ada yang gampang mencaci, menghasut, memfitnah, membuka aib, memancing kemarahan atau membuat ujaran kebencian.

Ada juga yang gampang menggampar bahkan sampai sengaja menabrak. Menariknya, yang melakukan umumnya terpelajar, terpandang, bahkan pejabat publik. Pokoknya nang badahi.

Semuanya menggunakan media sosial (medsos) untuk menumpahkannya. Gratis, gampang dibuat dan pasti ada yang baca, itulah karakter medsos. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa.

Halaman
12
Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved