Esai Zulfaisal Putera: Kemaksiatan Verbal

Lihat lah, ada yang gampang mencaci, menghasut, memfitnah, membuka aib, memancing kemarahan atau membuat ujaran kebencian.

Esai Zulfaisal Putera: Kemaksiatan Verbal
istimewa
Zulfaisal Putera 

Beberapa dengan gambar, tapi tetap ada pesan yang disematkan. Jika dicermati kalimat dan gambar yang disajikan, ngeri. Kita seakan berada di negeri barbar.

Bahasa yang digunakan sangat verbal dan sangar. Tak ada kesantunan dan kearifan. Jika menuduh, tak ada kata diduga atau kemungkinan. Jika mencaci, yang muncul langsung tunjuk hidung disertai kata-kata kasar.

Dan, jika membuka aib, tak ada lagi menyebut nama inisial atau wajah yang di-blur. Saya menyebut kondisi ini sebagai kemaksiatan verbal.

Yang menarik dikaji umumnya sematan yang dijadikan bahan ujaran kebencian di medsos justru hanya berdasar asumsi, tanpa data valid dan info sambung menyambung yang tak jelas siapa awalnya yang memukul gong.

Bahkan, setelah dirunut, sumber media yang dikutip pun abal-abal. Anehnya, penyambung lidah itu melakukan dengan percaya diri penuh.

Entah sampai kapan situasi medsos seperti ini. Walau tak semua netizen berperilaku seperti yang saya bahas, tapi yang terasa adalah begitu.

Medsos yang semula sebagai sarana komunikasi dan informasi yang sejuk, sekarang berubah menjadi panas, ajang pamer kekuatan dan peran tanding. Entah siapa satria dan begundalnya, makin tak jelas.

Inilah penggalan esai Zulfaisal Putera berjudul Kemaksiatan Verbal. Selengkapnya baca koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (26/08/2018). 

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help