Opini Publik

Gotong-royong Bangun Ekosistem Pendidikan yang Kondusif

Keseriusan mengelola pendidikan diharapkan mampu mewujudkan mimpi yang lebih baik pada masa depan

Gotong-royong Bangun Ekosistem Pendidikan yang Kondusif
banjarmasin post group
Muhammad Fajaruddin Atsnan 

Bukan justru sikap cuek orangtua dengan dalih kesibukan pekerjaan dan lain sebagainya. Lalu, mengorbankan partisipasi dan komunikasi orang tua, yang minimal ikut tergabung dalam komite sekolah, sebagai penyambung lidah keluarga dan sekolah. Orangtua seyogyanya bisa berpartisipasi pada tiap kegiatan pengembangan diri anak di sekolah.

Namun demikian, pelibatan keluarga pada pendidikan anak sejatinya dimulai dari lingkungan intern keluarga. Dalam pasal 7 Permendikbud No 30 Tahun 2017, disebutkan bentuk-bentuk pelibatan keluarga pada ranah keluarga antara lain berupa; menumbukan nilai-nilai karakter anak, memotivasi semangat belajar anak, mendorong budaya literasi, dan memfasilitasi kebutuhan belajar anak. Keempat bentuk yang masih menjadi PR para orang tua.

Melalui keteladanan bagaimana bersikap sopan dan santun kepada orang yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, atau mencontohkan berlaku jujur dirasa lebih efektif, ketimbang mengedepankan instruksi/perintah untuk hormat, sayang, dan jujur. Harapannya, ketika anak berada di sekolah, mereka bisa mengaplikasikan keteladanan untuk hormat kepada guru, jujur menceritakan apa yang terjadi selama di sekolah. Bukan malah sebaliknya, berani melawan guru, dan tidak jujur menceritakan kejadian kepada orangtua, sehingga ada kesan mengadu domba antara pihak guru (sekolah) dan orang tua (keluarga).

Kemudian, yang tak kalah penting adalah memotivasi semangat belajar dan mendorong budaya literasi (membaca) anak. Selain pendidikan karakter, aspek penting yang diperlukan anak di abad 21 adalah kompetensi dan literasi. Salah satu cara memotivasi anak untuk semangat belajar adalah dengan keteladanan orang tua untuk terus belajar. Kecanggihan anak era milenial mengharuskan orang tua untuk terus belajar mencari informasi, sehingga tetap bisa mengontrol aktivitas anak yang semakin beranekaragam.

Mengajak anak untuk menggunakan gadget, smartphone dengan bijak untuk meningkatkan daya baca anak Indonesia, bukan sebatas tingkat baca saja, menemani anak untuk belajar, mengerjakan PR, dan membaca buku. Bentuk pelibatan orang tua akan semakin lengkap jika diimbangi kemampuan untuk memenuhi fasilitas yang mendukung belajar anak.

Kedua, kombinasi antara masyarakat (kumpulan keluarga) dan sekolah. Jika merujuk pada definisi masyarakat sebagai kumpulan orang tua, maka asumsinya ketika semua orang tua (keluarga) sudah sadar akan pentingnya keterlibatan mereka terhadap setiap inisiasi pihak sekolah, maka pelibatan masyarakat pun akan sendirinya terpenuhi. Selaku pengguna jasa pendidikan, masyarakat mempunyai kewajiban untuk menjaga keberlangsungan proses pendidikan. Sumbangsih tidak melulu berupa materi, tetapi juga pemikiran sebagai acuan penentuan kebijakan sekolah.

Kombinasi yang baik antara masyarakat dan sekolah dapat terwujud manakala ada pemahaman yang sama atau objektivasi antara keduanya perihal tujuan anak sekolah. Sikap apatis dan budaya parternalism yang masih menghinggapi sebagian masyarakat dan menjadi penghambat kolaboratif antara sekolah dan masyarakat dalam membangun pendidikan anak, sepatutnya digerus dengan adanya sikap ikut memiliki sekolah.

Ditambah, sebagai satuan terkecil, pelibatan keluarga sebagai bagian dalam masyarakat menjadi penentu langkah tepat berikutnya. Apabila suatu masyarakat kembali peka akan pentingnya teguran ketika menjumpai anak yang melanggar ketertiban umum, atau bertindak anarkis, terlibat pornografi maupun penyalahgunaan Napza, maka keberlanjutan pendidikan anak di lingkungan sosial pasca digembleng di sekolah, bisa terkondisikan.

Memang, untuk membangun pendidikan anak ibarat membangun rumah. Ketika pondasi karakter dan kecintaan literasi sudah dibentuk di lingkungan keluarga, dilanjutkan dengan kombinasi keluarga dan sekolah untuk mengembangkannya, dan diteruskan oleh kombinasi keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menjadikan anak ibarat rumah yang kokoh, yang siap bertarung di era global.

Jika kita menginginkan ekosistem pendidikan yang solid, maka syarat mutlaknya adalah gotong-royong demi anak sebagai garapan utama, antara pihak orang tua (keluarga), pendidik/guru (sekolah), dan lingkungan sosialnya (masyarakat), sehingga harapan akan munculnya generasi penerus yang berkarakter dan berliterasi akan menjadi nyata. Semoga. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved