Berita Batola

21 Tahun Warga Jelapat I Batola Minum Air Sungai, Warga Minta Bantuan Kades dan Camat

“Mudah-mudahan ada peran kades dan Camat Tamban, agar kami warga di pinggir sungai itu bisa teraliri air bersih"

21 Tahun Warga Jelapat I Batola Minum Air Sungai, Warga Minta Bantuan Kades dan Camat
edi nugroho
Agus (43), warga Jalan Taman Sari Bunga, RT 15, Desa Jelapat, Kecamatan Tamban, Kabupaten Batola, memperlihatkan air keruh Sungai Subarjo di belakang rumahnya yang dijadikan untuk keperluan minum, masak, dan mandi cuci kakus (kasus). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Warga Jalan Taman Sari Bunga, RT 15, Desa Jelapat I, Kecamatan Tamban, Kabupaten Batola, minta bntuan kepala desa dan Camat Tamban agar warga setempat bisa teraliri air PDAM seperti kecamatan lainnya.

“Mudah-mudahan ada peran kades dan Camat Tamban, agar kami warga di pinggir sungai itu bisa teraliri air bersih,” kata Agus (43), warga Jalan Taman Sari Bunga, RT 15, Desa Jelapat, Kecamatan Tamban, Kabupaten Batola, Minggu (26/8/18).

Memang sungguh ironis. Selama 21 tahun, warga Jalan Taman Sari Bunga, RT 15, Desa Jelapat I, Kecamatan Tamban, Kabupaten Batola, memakai air keruh Sungai Subarjo untuk keperluan memasak, minum dan mandi cuci kakus (kasus).

Baca: Link Live Streaming Indosiar Bulutangkis Asian Games 2018, Ginting vs Chen Long, Minions vs Malaysia

“Iya sudah 21 tahun, kami memakai air Sungai Subarjo untuk minum,memasak, minum dan mandi cuci kakus (kasus). Anak-anak sekarang sering mencret karena air Sungai Subarjo mulai asin rasanya. Perut anak-anak kami tak tahan meski air sungai sudah direbus,” kata Agus.

Menurut Agus, selama 21 tahun terakhir belum ada tawaran sekalpun untuk pemasangan air bersih dari PDAM Batola warga Jalan Taman Sari Bunga, RT 15, Desa Jelapat I, Kecamatan Tamban. Nah, bagaimana warga Jelapat I akan memasang PDAM kalau tak ada tawaran.

Baca: Jadwal Live Indosiar Perorangan Asian Games 2018 Minggu 26 Agustus, Marcus/Kevin vs Malaysia

“Mudah-mudahan ada kebijakan dari Pemkab Batola untuk memperhatikan masalah kebutuhan air bersih seperti kami yang tinggal di pinggir Sungai Subarjo ini, “ katanya.

Ditambahkannya, saat ini Sungai Subarjo sangat terasa asin dan kondisi asin air sungai ini sudah berlansung lama. Jika warga Jelapat I akan mendapatkan air bersih harus pergi ke kawasan Kecamatan Alalak yang lokasinya cukup jauh.

“Jadi kami harus pergi ke kawasan Kecamatan Alalak untuk membeli air leding. Tapi lokasinya sangat jauh. Untuk itulah, warga lebih sering menggunakana air sungai Subarjo yang keruh dan asin,” katanya.

Menurutnya, warga Jelapat I mendapatkan harga Rp2 ribu per satu tank air di kawasan Kecamatan Alalak. Saat ini warga bermimpi agar Pemkab Batola bisa menyambungkan jaringan saluran PDAM ke kawasan Jalan Taman Sari Bunga, RT 15, Desa Jelapat, Kecamatan Tamban.

“Mudah-mudahan Ibu Bupati Batola Hj Noormiliyani dan Wakil Bupati Batola Bp Rahmadian Noor mau memperhatinkan kebutuhan air bersih kami yang di pinggir sungai ini,” katanya.

Dijelaskannya, sebagain besar warga Jalan Taman Sari Bunga, RT 15, Desa Jelapat, Kecamatan Tamban itu sebagai petani. Diharapkan ada kemudahan prosedur dan biaya untuk pemasangan baru jaringan PDAM.

“Kalau terus-terusan pakai air sungai untuk minum, masak, dan MCK lama-lama juga takut. Sebab, airnya sangat asin dan keruh. Mau bagaimana lagi. Mudah-mudahan pejabat Pemkab atau DPRD Batolau mau melihat kondisi air warga di sini” katanya.
(Banjarmasinpost.co.id/Edi Nugroho)

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved