Berita Tabalong

Dinkes Tabalong Musnahkan Obat Kadaluwarsa, Nilainya Capai Rp. 600 Juta

Sediaan farmasi yang dimusnahkan itu merupakan akumulasi dari tahun 2010 sampai tahun 2017 atau mencapai sekitar delapan tahun.

Dinkes Tabalong Musnahkan Obat Kadaluwarsa, Nilainya Capai Rp. 600 Juta
banjarmasinpost.co.id/dony usman
Obat rusak atau kadaluarsa dalam mobil box siap dibawa ke incenerator rumah sakit guna proses pemusnahan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID,TANJUNG - Berbagai jenis macam obat dan alat kesehatan (alkes) yang rusak atau kadaluarsa dimusnahkan jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Tabalong.

Sediaan farmasi yang dimusnahkan itu merupakan akumulasi dari tahun 2010 sampai tahun 2017 atau mencapai sekitar delapan tahun.

Kepala Dinkes Tabalong, dr Taufikurrahman Hamdie, Minggu (26/8/2018), membenarkan adanya pemusnahan obat rusak atau kadaluarsa tersebut.

"Pemusnahan dilakukan dengan dibakar di incenerator," kata mantan Direktur RSUD H Badaruddin Kasim ini.

Pemusnahan obat ini telah dilakukan pada Selasa (21/8/2018) lalu ditandai dengan penghapusan data oleh Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani.

Baca: LIVE STREAMING Trans7 MotoGP Inggris 2018 - Link Live Streaming Trans 7 Mulai 17.00 WIB

Baca: Hasil MotoGP Inggris 2018 - Maverick Vinales Tercepat, Valentino Rossi No 10 di Sesi Warm Up

Untuk jumlah sediaan farmasi yang dimusnahkan memang cukup banyak, ini dikarenakan itu jumlah dari akumulasi selama 8 tahun.

Dengan kumpulan obat dari puskesmas di Tabalong dan gudang farmasi, total obat yang dimusnahkan beratnya sekitar 700 kilogram.

Sedangkan bila dihitung dari nominalnya, seluruh obat yang dimusnahkan tersebut mencapai lebih dari Rp. 630 juta.

Dengan rincian, untuk yang dari puskesmas senilai lebih Rp.149 juta dan dari gudang farmasi senilai lebih dari Rp. 481 juta.

Baca: Hasil Bulutangkis Perorangan Asian Games 2018, Jonatan Christie Lolos ke Semifinal!

Baca: Hasil Perorangan Bulutangkis Asian Games 2018 - Anthony Ginting Kalahkan Chen Long, ke Semifinal

Dimana sumber dana pengadaan sediaan farmasi itu ada yang bersumber dari dana APBD dan juga dana APBN.

Disampaikan dr Taufik, rata-rata obat yang dimusnahkan itu merupakan obat yang sifatnya memang wajib harus disediakan meskipun kasusnya belum tentu ada terjadi.

Soalnya dalam prinsip penyediaan farmasi, produk-produk emergency merupakan bagian yang wajib untuk disediakan.

"Jadi kita wajib menyediakan walaupun kasusnya belum tentu ada terjadi. Sebagai contoh seperti serum anti bisa ular, tidak bisa habis karena tidak bisa terpakai sepenuhnya," katanya.

Dengan adanya aturan penyediaan itulah maka sediaan farmasi yang rusak atau kadaluarsa tidak akan bisa untuk dihindari. (banjarmasinpost.co.id/dony usman)

Penulis: Dony Usman
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help