Aksi Cepat Tanggap

Sekerat Daging dan Asa di Pulau Bromo

Tim Global Qurban – ACT Kalsel akhirnya menjejakkan kaki di Pulau Bromo. Mereka memfasilitasi warga untuk memasak dan makan bersama.

Sekerat Daging dan Asa di Pulau Bromo
istimewa
Ibu-ibu di Pulau Bromo, Banjarmasin sedang memasak daging kurban 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASINPulau Bromo. Nama yang ternyata masih cukup asing bagi warga Banjarmasin. Namun keberadaannya sudah lebih dari 30 tahun di sebelah selatan dari ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Sebenarnya tak terlalu sulit menjangkau Pulau Bromo. Dari pusat kota memakan waktu sekira 30 menit sampai di Kelurahan Mantuil. Dari Kelurahan dilanjutkan menyeberang menggunakan kapal feri dengan biaya Rp 3 ribu sekali tempuh untuk kendaraan roda dua, dan seribu rupiah untuk pejalan kaki.

Berada di pinggiran kota membuat warga di Pulau Bromo seperti terabaikan dari pembangunan. Bangunan rumah-rumah kayu tampak tua dan renta. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh, sedangkan lainnya antara lain petani, guru, dan pedagang.

ADV
ADV (istimewa)

Sarlinda, salah seorang warga yang bekerja sebagai guru TK mengungkapkan bahwa baru dua tahun terakhir ini pemerintah mulai memperhatikan pembangunan di Pulau Bromo.

Itu pun masih sebagian saja. “Ada pembangunan siring di RT 6 dan RT 7, sedangkan RT 4 dan RT 5 belum ada,” ujarnya.

Siang itu cukup terik. Tim Global Qurban – ACT Kalsel akhirnya menjejakkan kaki di Pulau Bromo. “Air sungai sudah mulai asin,” Sarlinda menyambut tim dengan cerita pilu lain di Pulau Bromo.

Pulau Bromo memang sebuah pulau delta yang mempertemukan antara Sungai Mantuil dan Sungai Barito. Tak jauh dari sana terdapat Laut Jawa.

Setiap musim kemarau panjang air sungai akan menjadi asin karena kontaminasi air laut. Sumber air bersih di Pulau Bromo menjadi salah satu permasalahan yang hingga kini juga belum tuntas.

ADV
ADV (istimewa)

Terlepas dari segala persoalan itu. Tim Global Qurban – ACT Kalsel membawa cerita sendiri untuk Pulau Bromo. Sabtu (25/8) kemarin, tim mengantarkan 30 kg daging kurban persembahan Maybank Syariah Cabang Banjarmasin ke Pulau Bromo. Tak hanya mengantarkan, tapi tim memfasilitasi warga untuk
memasak dan makan bersama.

“Alhamdulillah senang sekali bisa masak dan makan daging bersama seperti ini. Sudah sepuluh tahun lebih tidak ada yang mengantarkan kurban ke sini,” Darti, perempuan berusia 50 tahun itu berseloroh sambil mengaduk masakan di penggorengan Dapur Qurban.

Halaman
12
Penulis: Rendy Nicko
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help