Tajuk

Takut (Ber) Demokrasi

Ada berbagai jenis rasa takut (berlebihan), mulai rasa takut terhadap hal-hal yang sederhana sampai rasa takut takut terhadap hal luar biasa.

Takut (Ber) Demokrasi
net
neno warisman 

BANJARMASINPOST.CO.ID -TAKUT. Orang modern mengistilahkannya dengan sebutan fobia atau phobia. Ada berbagai jenis rasa takut (berlebihan), mulai rasa takut terhadap hal-hal yang sederhana sampai rasa takut takut terhadap hal luar biasa. Dalam dunia psikologi hal ini dinilai sebagai sesuatu yang manusiawi yang ada pada manusia, katanya.

Jika kita mencermati secara seksama selama sebulan terakhir ini, kita melihat sebuah tontonan tidak menarik yang tidak bisa dilepaskan dari rasa takut yang memendar dari sebagian anak bangsa. Ya, kontestasi politik seolah telah memercikkan rasa takut luar biasa yang dirasakan oleh para elite politik terhadap sesuatu yang menghinggapi mereka.

Suka tidak suka, tahun 2019 menjadi pendulum waktu yang bisa mengubah nasib mereka. Apakah masih menjadi bagian dari sebuah komunitas (politik) atau berada di luar lingkar yang selama ini mereka menjadi bagian dari komunitas.

Dan, ironisnya secara kasat mata kita melihat rasa takut itu pun seolah ikut menjangkiti mereka yang berada di luar komunitas formal. Dengan kata lain, tataran bawah dari sebuah komunitas informal secara sadar atau tidak sadar merasa terkungkung oleh rasa takut akan sesuatu yang sejatinya bukan bagian dari kehidupan riil mereka.

Sepekan terakhir kita menyaksikan aksi penolakan yang lahir rasa takut yang berlebihan oleh sekelompok massa (informal) terhadap sebuah aktivitas kelompok lain yang melakukan misi kebebasan berpendapat –yang notenebe dipayungi oleh undang-undang.

Terlepas siapa yang berada di balik semua itu, kita melihat bahwa berbagai fenomena yang sangat tidak menarik ini seolah memberi pesan bahwa para elite (politik) begitu naif melihat demokrasi di negeri ini. Dengan kata lain, mereka belum bisa untuk ‘bersahabat’ dan bersikap bijak dalam melihat demokrasi secara proporsional. Dan, yang kita rasakan adalah rasa takut menjadi alasan dari sebuah policy yang semestinya tidak perlu.

Kita yang awam, melihat pemandangan yang sangat tidak menarik dari ‘panyanderaan’ seorang Neno Warisman, Ahmad Dani di Pekanbaru dan Surabaya, Jawa Timur yang berencana menggelar sebuah kagiatan deklarasi bagian dari sebuah demokrasi. Demikian juga kepicikan sekelompok orang di Babel menolak kegiatan diskusi (politik) Ratna Sarumpaet dan Rocky Gerung.

Suka tidak suka jujur harus kita katakan semua itu tidak bisa dilepaskan dari rasa takut yang tidak diposisikan pada tempat yang semestinya. Kelucuan bahkan keanehan diperlihatkan dari sikap aparat kepolisian sebagai garda keamanan yang juga seolah mengedepankan rasa takut itu sedemikian pentingnya.

Semestinya, tidak perlu aparat kepolisian menyikapi persoalan itu dengan dalih tidak ingin terjadi sesuatu yang bakal berimplikasi dengan kamtibmas. Akan lebih bijak jika polisi bersikap profesional sebagai garda keamanan, tidak ikut terbawa oleh situasi atau tekanan dari luar yang dihinggapi rasa takut yang berlebihan.

Penolakan kelompok lain yang tidak menyukai dilakukannya kegiatan demokrasi, justru memberikan gambaran kepada kita belum dewasanya kita dalam berdemokrasi.

Dan, harus kita sadari bersama, dalam politik tidak bisa serta merta memaksakan harus seiya sekata, bagaimanapun adanya perbedaan (politik) adalah bagian dari demokrasi. Dan, tidak perlu kita harus selalu dihantui oleh rasa takut yang akhirnya justru mencederai demokrasi itu sendiri. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved