Mereka Bicara

Kelulusan dan Kenaikan Kelas Bukan Akhir Segalanya

Saat siswa akan menghadapi ujian kelulusan maupun ulangan kenaikan kelas, ada beradam hal yang mereka laku. Ada yang serius, tegang

Kelulusan dan Kenaikan Kelas Bukan Akhir Segalanya
tribunkalteng.com/jumadi
Beberapa siswa tampak sedang mengerjakan soal Ujian Nasional. 

Oleh: SRI SUPADMI SPD, Kepala SMPN 2 Kusanhulu, Tanahbumbu, Pengurus IGI Tanahbumbu

Tiap akhir tahun pelajaran pelajar pada semua jenjang pendidikan (TK, SD, SMP hingga SMA sederajat) menjalani ulangan kenaikan maupun ujian nasional. Hal ini sering berdampak pada seluruh aspek seluruh lini masyarakat; pada siswa, orangtua, sekolah maupun masyarakat.

Itu terjadi karena sebagian kalangan menganggap ujian nasional maupun ulangan akhir semester adalah momok atau akhir dari tujuan sekolah. Padahal ujian kelulusan atau ulangan kenaikan kelas merupakan langkah awal pelajar memulai kehidupan baru yakni menpaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Saat siswa akan menghadapi ujian kelulusan maupun ulangan kenaikan kelas, ada beradam hal yang mereka laku. Ada yang serius, tegang, bahkan ada juga yang cuek atau masa bodoh yang penting lulus atau naik kelas. Hal serupa juga dirasakan orangtua atau guru.

Ada sebagian guru yang merasa tanggungjawabnya belum tuntas sehingga mengejar materi agar siswa bisa melahap semua materi yang belum disampaikan. Ada yang sudah siap materi secara baik, telah membekali siswa dengan semua bahan ujian ataupun ulangan tinggal mengulas atau mengulang untuk menghadapi ujian atau ulangan.

Tapi, ada juga yang acuh tak acuh menghadapi persiapan ujian atau ulangan, sekadarnya saja. Siswa siap atau tidak, materi belum tersampaikan atau belum urusan belakangan terpenting dijalani dulu. Sebagian orang tua siswa ada yang gigih memotivasi anaknya agar giat belajar menghadapi ujian/ulangan, ada juga yang tidak peduli dengan anaknya karena sibuk dengan berbagai urusan pekerjaan atau bahkan tidak tahu apakah anaknya hendak ujian atau ulangan.

Hal seperti itulah yang sering terjadi di lingkungan rumah tangga, sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Tak heran jika hal itu berdampak terhadap hasil yang dicapai siswa pascaujian atau pascaulangan kenaikan.

Dampak tersebut akan berimbas pada mutu atau kualitas pembelajaran di sekolah kemudian berlanjut ke jenjang sekolah yang akan ditempuh kelak. Apabila hasil nilai ujian maupun hasil ulangan kenaikan memuaskan tentu tak jadi masalah. Tapi, jika hasilnya tak memenuhi target tentu penyesalan yang terjadi.

Akhirnya banyak yang saling menyalahkan, baik dari kalangan siswa, guru maupun orangtua. Masing-masing ingin menyelamatkan diri untuk menutupi kesalahan yang dilakukan. Dalam bahasa psikologi disebut ego mekanisme defans yaitu suatu politik untuk mempertahankan diri agar terhindar dari kesalahan atau untuk menutupi kesalahannya pribadi.

Siswa menyalahkan gurunya yang tidak pernah menerangkan, salah memberikan kisi-kisi, kurang jelas saat mengajar. Sedangkan guru menyalahkan siswa karena kurang perhatian saat proses belajar mengajar, siswa kurang belajar ataupun kelakuan siswa yang sering kurang ajar. Lalu, orangtua menyalahkan pihak sekolah yang menilai kualitas sekolah kurang baik, guru kurang disiplin mengajar, tak bisa memberi nilai yang baik kepada siswa dan lain sebagainya.

Hal itu tak menyelesaikan masalah, karena semua pihak merasa benar dan pihak lain salah. Ini yang akan mengkibatkan permasalahan menjadi kompleks dan akan terus menerus berlanjut apabila tidak segera di selesaikan atau intropeksi diri guna mengupas letak kesalahan, kegagalan dan lain sebagainya.

Diperlukan sejumlah upaya untuk mengatasi persoalan tersebut. Pihak sekolah perlu mulai mengkaji capaian sebelumnya sebagai bahan pertimbangan atau evaluasi untuk meningkatkan kualitas pada tahun berikutnya, baik menyangkut kualitas pembelajaran, sarpras, dan faktor pendukung lainnya.

Pimpinan perlu memonitor atau melakukan supervisi guru dalam pembelajaran guna mencapai peningkatan. Jadi, akan diketahui aspek mana yang belum baik dan perlu diperbaiki dan mana yang sudah baik dan perlu ditingkatkan kualitasnya. Atau mungkin perlu dilakukan pelatihan bagi guru yang belum paham atau masih kurang kualitas mngajar atau bimbingan kelompok guru melalui MGMP dan lain sebagainya.

Pihak guru pun perlu evaluasi. Melakukan refleksi tentang kualitas mengajarnya apakah selama ini kualitas mengajarnya belum maksimal atau hanya setengah-tengah dalam memberikan arahan, bimbingan, pemberian materi kepada siswanya. Jika belum, maka perlu totalitas tinggi lagi saat mengajar, meningkatkan diri sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi).

Guru juga perlu meningkatkan serta membekali diri dengan berbagai kompetensi.. Di antaranya mengikuti perkembangan iptek, menemukan berbagai cara mengajar yang benar yang bisa diserap secara baik oleh siswa. Perlu menggunakan berbagai teknik mengajar yang mudah dan menyenangkan siswa, memberikan motivasi belajar yang baik, perlu pendekatan yang baik kepada semua siswa dengan mengingat karakter siswa yang berbeda dan unik. Lalu, perhatian yang khusus kepada semua siswa baik yang bermasalah ataupun yang tidak bermasalah untuk mencegah ataupun menyelesaikan masalah yang timbul atau kemungkinan akan timbul.

Sementara dari pihak siswa juga perlu kesadaran diri, bahwa tugas utama adalah belajar. Bukan hanya saat sekolah semata belajar dijalani, tapi sepanjang hayat atau long live education. Belajar adalah kebutuhan pokok untukbekal hidup kelak semasa tua. Tidak banyak mengeluh, sadar diri bahwa belajar bukan karena keterpaksaan atau takut orangtua/guru, tapi atas kesadaran dan kemauan sendiri.

Sangat perlu bagi siswa untuk memotivasi diri, menggali potensi diri, menumbuhkan minat diri untuk belajar dan terus belajar. Siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi, motivasi belajar yang baik akan menghasilkan hasil akhir yang baik pula. Tentunya diiringi usaha kuat untuk mencapai target yang memuaskan serta dukungan orangtua serta guru. Tak kalah penting dukungan moral spiritual, ilmu agama yang baik, iman yang kuat agar tidak mudah tergoda bujukan yang menyesatkan, akhlak serta budi pekerti yang baik yang sangat mendukung keeberhasilan siswa.

Sementara itu dari pihak orangtua/masyarakat perlu dukungan yang kuat demi tercapainya siswa yang berhasil dan berkualitas. Peran orangtua selain memberikan dukungan material kepada anak juga dukungan spiritual, doa yang baik untuk anaknya, motivasi yang baik untuk mendukung anaknya belajar baik di rumah dan di sekolah.

Perlu diingat kembali bahwa pendidikan bukan hanyatanggungjawab guru, tapi semua pihak termasuk orangtua maupun masyarakat. Ini penting untuk mendukung keberhasilan siswa karena waktu terbanyak mereka yakni di rumah sejak bangun tidur hingga tidur lagi.

Orangtua juga perlu memahami karakter sang anak. Memberi perhatian khusus kepada anak bukan hanya saat momen ujian, tapi pada tiap kessempatan. Penting juga selalu memberi contoh atau teladan yang baik keepada anak menyangkut akhlak ataubudi pekertinya. Perlu menegur jika sang anak tidak belajar, mengarahkan apabila anak melanggar atau berbuat kurang baik.

Melalui kerjasama dan dukungan berbagai pihak tersebut diharapkan keberhasilan siswa menghadapi ujian dan ulangan kenaikan akhir tahun bisa digapai secara baik. Ada pepatah menyatakan; Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Jadi, apabila saat ini gagal, tak usah berkecil hati dan harus tetap semangat untuk bangkit memperbaiki diri agar tahun berikutnya bisa meraih kesuksesan.

Jika semua pihak telah berusaha maksimal, tapi hasil yang di capai belum memuaskan, kita kembalikan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam kondisi demikian, kita perlu bersabar, iklas menerima hasil apa pun karena mungkin itu yang terbaik. Manusia hanya bisa berusaha dan berencana, selebihnya Allah Tuhan Yang Maha Esa yang menentukan segalanya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help