B Focus Urban Life

Desa yang Dulu Tak Pernah Tidur Kini Mati Ditinggal Warganya Melanjutkan Kehidupan di Tempat Lain

SETIAP 15 menit sekali, kapal ferry yang melayani penyeberangan antara Alalak Banjarmasin ke Desa Jelapat I Kecamatan Tamban

Desa yang Dulu Tak Pernah Tidur Kini Mati Ditinggal Warganya  Melanjutkan Kehidupan di Tempat Lain
BPost Cetak

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - SETIAP 15 menit sekali, kapal ferry yang melayani penyeberangan antara Alalak Banjarmasin ke Desa Jelapat I Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala (Batola) secara bergantian merapat ke bibir dermaga.

Setelah berhasil tambat, puluhan orang dan kendaraan bermotor pun keluar dari perahu kayu.

Ya, mereka adalah warga Jelapat yang mau ke Kota Banjarmasin, maupun sebaliknya warga Banjarmasin yang hendak berkunjung ke Desa Jelapat.

Baca: Donghae Super Junior Tepati Janji Lakukan Goyang Dayung Jokowi, Closing Ceremony Asian Games 2018

Menggunakan transportasi air menjadi hal yang akrab di kalangan warga daerah itu.

Apalagi, saat perusahaan kayu yang ada di Desa Jelapat seperti PT Barito Pasific, PT Daya Sakti masih beroperasi, warga hilir mudik ke dua daerah ini karena bekerja di perusahaan tersebut.

Jumlah perahu penyeberangan pun tak hanya dua, tapi lebih.

Namun seiring runtuhnya kejayaan perusahaan kayu, membuat perahu penyeberangan jumlahnya juga berkurang.

Baca: Jonatan Christie Pilih Via Vallen Ketimbang Ayu Ting Ting Saat Diminta Memilih, Netizen Pun Riuh

Karena warga yang menggunakan perahu juga tidak sebanyak tempo dulu.
Saat di puncak kejayaan, perusahaan kayu tersebut menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja.

Hal ini juga menciptakaan banyak lapangan kerja bagi warga desa setempat.

Seperti penginapan, kos-kosan, warung makan, jual beli baju, toko sepatu dan lainnya.

Kini semua itu tinggal kenangan, karena kejayaan industri kayu telah berganti.

Baca: Iis Dahlia Posting Foto Saat Tidur, Bulu Halus Ini Jadi Perhatian Netizen, Pujian Pun Berdatangan

Desa yang dulu tak pernah tidur karena hilir mudik ribuan karyawan, kini seolah mati.

Banyak warga yang meninggalkan desa tersebut ke tempat lain untuk melanjutkan kehidupan.

Bekas-bekas bangunan yang dulunya megah, kini seperti gedung tua yang ditumbuhi semak-semak dan banyak rumput liar.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help