Berita Kotabaru

Petani Sawit Lokal Kotabaru Makin Menjerit, PKS Tidak Bersedia Beli Karena Kualitas Rendah

Selama ini, petani di beberapa desa tersebut menjual hasil kebun mereka ke Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Petani Sawit Lokal Kotabaru Makin Menjerit, PKS Tidak Bersedia Beli Karena Kualitas Rendah
istimewa
Buah tandan segara (TBS) milik warga Mulyoharjo terancam busuk karena pabrik kelapa sawit di daerah mereka tidak mau membeli tanpa alasan. Selama ini petani menjual ke wilayah Kaltim dengan jarak cukup jauh. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Petani di beberapa desa di Kecamatan Kelumpang Hulu dan Hampang Kotabaru makin menjerit. Selain anjloknya harga tandan buah segar (TBS), dalam empat bulan terakhir sebagian besar petani membiarkan TBS mereka busuk.

Membuat resah petani yang tergabung dalam asosiasi petani kelapa sawit indonesia (Apkasindo) Kabupaten Kotabaru, TBS dibiarkan busuk selain harga anjlok. Mereka tidak bisa menjual TBS ke pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di wilayah Kotabaru.

Selama ini, petani di beberapa desa tersebut menjual hasil kebun mereka ke kabupaten tetangga, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Namun hal itu tidak bisa lagi dilakukan, karena pemerintah daerah Kabupaten Paser ada mengeluarkan larangan. Pabrik kelapa sawit di wilayah mereka dilarang membeli TBS dari luar.

Baca: Kartika Putri Menikah dengan Habib Usman Karena Sosok Orang Dekat Raffi Ahmad, Begini Kisahnya

Baca: Cak Imin Ngaku Bela Ustadz Abdul Somad yang Batalkan Jadwal Ceramahnya karena Diduga Intimidasi

Hal itu diungkapkan Saijul Kurnain, penggagas Apkasindo yang berpusat di desa Cantung, Kecamatan Kelumpang Hulu Kabupaten Kotabaru.

Menurut Saijul sekaligus mewakili petani di empat desa, sebagian besar TBS dibiarkan busuk karena PKS yang beroperasi dI wilayah Kotabaru tidak bersedia membeli dengan alasan kualitas TBS petani lokal Kotabaru rendah.

Saijul mengaku, pihaknya di Apkasindo bingung. Padahal 60 persen bibit sawit menghasilkan TBS tersebut dari Dinas Perkebunan Kotabaru.

"Kami bingung. Kan 60 persen bibit sawit dari Dinas Perkebunan," beber Saijul kepada banjarmasinpost.co.id, Selasa (4/9/2018)

Ditambahkan Saijul, sebenarnya persoalan ini sudah berlangsung selama empat bulan terakhir. Bahkan, pihaknya sudah pernah melakukan hearing di DPRD Kotabaru, tapi tidak ada hasilnya.

Persoalan menggelayuti petani, tambah Saijul, sudah disampaikan ke pemerintah daerah dan pihak dinas perkebunan. Namun, juga tidak membuahkan hasil. Saijul menuding, karena ketidak seriusan pemerintah kabupaten Kotabaru.

Baca: Pernyataan Menag Lukman Hakim Soal Ustadz Abdul Somad yang Batal Ceramah karena Dugaan Intimidasi

Baca: Reaksi Aa Gym Soal Ustadz Abdul Somad Batalkan Ceramah Karena Dugaan Intimidasi

"Setelah kami kroscek ternyata laporan kami sampaikan hanya berkutat di staf. Tidak sampai ke asisten atau sekretaris daerah," jelas yang juga tokoh pemuda setempat.

Saijul berharap anjloknya harga sawit berkisar Rp 800 perkilo dan kemudahan petani menjual TBS ke PKS di Kotabaru, dalam sebulan ini sudah ada solusinya dari pemerintah Kabupaten Kotabaru.

"Bila tidak ada solusi, kami terpaksa akan menutup PKS yang beroperasi di wilayah Kotabaru," tandas Saijul.

Sementara hingga berita diturunkan belum didapat informasi resmi dari pemerintah daerah dan instansi terkait.

(banjarmasinpost.co.id/helriansyah)

Penulis: Herliansyah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved