Rupiah Melemah

Rupiah Terpuruk Capai Rp 15.029 Per Dolar, Pengamat Ekonomi Sebut Tekanan Krisis

Rupiah Terpuruk Capai Rp 15.029 Per Dolar, Pengamat Ekonomi Sebut Tekanan Krisis

Rupiah Terpuruk Capai Rp 15.029 Per Dolar, Pengamat Ekonomi Sebut Tekanan Krisis
Uang kertas yang akan berakhir masa berlakunya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dollar terus merosot, melewati ambang batas psikologis.

Nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar sudah menembus Rp 15.029 per dollar, atau level terendah sejak krisis 1998 sekitar pukul 19.40 WIB.

Kini, pukul 21.00 WIB nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai Rp 14.999 per dolar.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan hari ini, kurs Rupiah dibuka melemah pada posisi Rp 14.822 per dolar AS.

Baca: DPRD Kota Malang Hanya Tersisa 4 Orang Usai 41 Anggota Ditetapkan Tersangka, Ini Nama 4 yang Tersisa

Baca: Nilai Tukar Rupiah (Kurs) Tembus 14.977 Per Dolar, Jusuf Kalla: Stop Impor Ferrari Hingga Hermes

Hari ini, mata uang garuda ditransaksikan pada kisaran Rp 14.780 hingga Rp 14.938 per dolar AS.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara menilai tekanan krisis.

Turki dan Argentina yang merembet ke negara berkembang menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar global.

Hal itu terlihat dari melemahnya nilai tukar Rupiah.

Menurut Bhima, hal itu belum lagi diperparah dengan adanya rencana kenaikan suku bunga The Fed pada akhir September ini.

Baca: Nilai Tukar Rupiah (Kurs) Tembus 14.977 Per Dolar, Nyaris Lewati Ambang Batas Psikologis

“Akibatnya investor menghindari risiko dengan membeli aset berdenominasi dolar. Indikatornya US Dollar index naik 0,13 persen ke level 95,2. Dolar index merupakan perbandingan kurs dolar AS dengan 6 mata uang lainnya,” kata Bhima, kepada Tribunnews.com, Selasa (4/9/2018).

Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat untuk membantu pemerintah mengurangi impor untuk mengatasi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Hal itu penting untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

Salah satu caranya, yakni dengan tidak mengimpor barang-barang mewah.

"Mungkin jumlahnya tidak besar tetapi perlu untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa suasana ini, suasana berhemat," ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (5/9).

Uang Rupiah
Uang Rupiah (banjarmasinpost.co.id/acm)

"Suasana kita tidak perlu impor barang mewah, enggak usah Ferrari, Lamborghini masuk, enggak usah mobil-mobil besar, yang mewah-mewah. Tak usah parfum-parfum mahal atau tas-tas Hermes," sambungnya.

Pemerintah, tutur Kalla, akan berupaya meningkatkan ekspor sumber daya alam dan coba menurunkan impor yang tidak perlu.

Di sisi lain, peningkatan lokal konten juga perlu ditingkatkan sehingga industri tak banyak mengimpor barang.

Selain itu, pemerintah juga meminta agar ekspor dilakukan secara efesien. Sebab, uang hasil ekspor banyak disimpan di luar negeri.

Padahal, kalau dana itu disimpan di bank di dalam negeri atau Bank Indonesia, maka dana itu akan menambah ketersediaan dana di dalam negeri.

"Ya, selama itu disimpan di bank nasional atau di BI enggak apa-apa cadangan kita baik. Itu akan memperkuat rupiah kalau cadangan baik," kata Kalla seperti dikutip kompas.com.

Editor: Restudia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved