Jokowi Diminta Mundur Jadi Presiden RI Karena Nilai Tukar (kurs) Rupiah Melemah, Ini Alasannya

Joko Widodo (Jokowi) diminta mundur sebagai Presiden RI setelah nilai tukar (kurs) rupiah terus melemah.

Jokowi Diminta Mundur Jadi Presiden RI Karena Nilai Tukar (kurs) Rupiah Melemah, Ini Alasannya
tribunnews.com
Presiden Indonesia Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menyampaikan Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR 2018 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis(16/8/2018). 

"Tapi yang diomongin ke presiden di kabinet kan selalu hanya APBN. Ekonomi bukan hanya APBN. Ekonomi itu transaksi perdagangan, current account, balance of payment, primary balance," terang dia menambahkan.

Rizal mengatakan jika indikator ekonomi yang mengarah ke arah negatif itu sudah disampaikan kepada beberapa menteri di kabinet.

"Kita lihat indikatornya makin lama makin negatif terus dan kami ungkapkan di media, kami sampaikan juga kepada beberapa menteri. Eh malah sibuk bantah-bantah, persis kayak tahun 1998," ujar dia.

"Semua menteri ekonomi bilang fundamental kita kuat, fundamental tidak kuat karena semua indikator tadi negatif," sambung Rizal.

Menurutnya, jika fundamental ekonomi itu kuat maka hal itu bisa terlihat dari indikator yang mengarah ke positif.

"Oleh karena itu kami katakan ini lampu kuning, hati-hati bisa-bisa ini sudah setengah merah," tandas Rizal Ramli.

Seperti diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus merosot.

Bahkan mata uang Garuda itu sudah menembus Rp 15.029 per dolar pada Selasa (4/9/2018) malam, atau level terendah sejak krisis 1998.

Komentar Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan komentarnya soal nilai tukar (kurs) Rupiah yang melemah sampai Rp 15 ribu per dolar.

Melemahnya nilai tukar rupiah menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan ada ekonom menyebut pelemahan tersebut menjadi pertanda ada yang tak beres pada perekonomian Indonesia.

Presiden Jokowi menegaskan, pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat bukan hanya terjadi terhadap rupiah saja, tetapi juga mata uang negara lain.

"Tidak hanya negara kita, Indonesia, yang terkena pelemahan kurs, tidak hanya Indonesia," ujar Jokowi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018).

Menurut Jokowi, pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan sentimen dari eksternal, seperti kenaikan suku bunga The Fed, perang dagang antara China dan Amerika Serikat, dan krisis yang melanda Turki serta Argentina.

"Ini faktor eksternal yang bertubi-tubi."

"Saya kira yang paling penting kita harus waspada, kita harus hati-hati," ujar Jokowi, dikutip TribunSolo.com dari Kompas.com.

Untuk menguatkan rupiah kembali, menurut Jokowi, pemerintah akan terus meningkatkan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, dan para pelaku usaha.

Baca: Jadwal MotoGP Italia 2018 di Sirkuit Misano Live Trans7, Latihan Bebas, Kualifikasi Sampai Balapan

Baca: Pacar Maia Estianty Berikan Jam Tangan Mewah pada Lindswell Kwok, Irwan Mussry: Hari yang Spesial

"Saya kira koordinasi yang kuat ini menjadi kunci, sehingga jalannya itu segaris semuanya," ujar Jokowi.

Presiden Jokowi juga memberi target kepada jajarannya untuk segera memperbaiki transaksi berjalan dengan menggenjot ekspor dan investasi di dalam negeri.

Sebab, saat ini transaksi berjalan mengalami defisit 3 persen.

"Dengan investasi dan ekspor yang meningkat, kita bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan, kalau ini selesai, itu akan menyelesaikan semuanya," ujar Jokowi.

"Target saya sudah berikan agar dalam satu tahun, betul-betul ada perubahan di penyelesaian defisit transaksi berjalan," lanjut dia.

Beberapa upaya memperbaiki defisit transaksi berjalan, kata Jokowi, adalah diterapkannya 20 persen biodiesel atau B20, yang diyakini dapat mengurangi impor minyak cukup besar.

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Istimewa)

Selain itu, pemerintah juga mendorong tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kepada perusahaan BUMN maupun swasta.

"Ini saya sampaikan kepada kementerian, baik ke swasta maupun kepada BUMN agar lokal konten diperhatikan, kalau bisa pakai semua komponen dalam negeri, ada penghematan 2 miliar dolar AS sampai 3 miliar dolar AS," ujar Jokowi.

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menyentuh level terendahnya dalam lima tahun terakhir ke posisi Rp 14.935 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (4/9/2018) kemarin.

Mengacu Bloomberg, dengan posisi tersebut, depresiasi kurs Rupiah meningkat menjadi 10,18 persen.

Editor: Murhan
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help