Ekonomi dan Bisnis

Perajin Tempe Panik dan Galau, Rupiah Semakin Terpuruk Menyentuh ke Level 15 Ribu

Akibat kondisi ini, sejumlah pengusaha menjadi kebingungan, bahkan ada yang panik seperti perajin tempe.

Perajin Tempe Panik dan Galau, Rupiah Semakin Terpuruk Menyentuh ke Level 15 Ribu
Warta Kota
Pekerja mengemas kacang kedelai untuk dibuat tempe di Kawasan Sunter Jaya, Jakarta Utara, Selasa (31/7/2018). Pengrajin tempe mengaku belum mendapat sosialisasi dari Pemerintah terkait operasional pabrik rumahan mereka jelang penyelenggaraan Asian Games 2018. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANGERANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terpuruk, bahkan sudah menembus level mengkhawatirkan.

Akibat kondisi ini, sejumlah pengusaha menjadi kebingungan, bahkan ada yang panik seperti perajin tempe.

Perajin tempe bernama Jefri (35), yang membuka usahanya di Pasar Sepatan, Kabupaten Tangerang, mengungkapkan kegalauan terhadap naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini.

“Dikhawatirkan menguatnya dolar akan menjadi faktor penghambat berproduksi. Sebab, bahan baku kacang kedelai yang kami gunakan masih impor, yang harganya bergantung pada nilai tukar dollar," ujar Jefri kepada Warta Kota, Rabu (5/9/2018).

Baca: Jokowi Diminta Mundur Jadi Presiden RI Karena Nilai Tukar (kurs) Rupiah Melemah, Ini Alasannya

"Dan kalau nilai tukar rupiah terus melemah, bisa dibayangkan akan terjadi kenaikan pada bahan baku kedelai, yang berakibat menambah beban permodalan,” sambungnya.

Lelaki berusia 35 tahun ini pun semakin risau, lantaran daya beli masyarakat terhadap tempe juga terbilang menurun.

“Biasanya kalau kacang naik, imbasnya kami sangat merasakan sendiri. Ketika kami menyiasati dengan menaikkan harga jual atau mengurangi volume tempe, maka ketika itu juga daya beli masyarakat menurun terhadap tempe, yang berujung pada tidak terserapnya jumlah produksi hingga mengalami kerugian,” papar Jefri.

Baca: Secantik Kartika Putri, Ini Sosok Istri Pertama Habib Usman Bin Yahya, Ria Tatu, Lihat Foto Beredar

Terhadap nilai jual tempe dan harga bahan baku yang digunakan, Jefri mengungkapkan untuk saat ini masih menggunakan stok kedelai yang berharga lama, yakni Rp 7.500 per kilogram, dengan nilai jual tempe seberat 600 gram dihargai Rp 6.000.

"Sedangkan tempe dengan berat 700 gram dijual dengan harga Rp 7.000. Dengan harga jual tempe saat ini sudah menurunkan daya beli masyarakat, bagaimana kalau harga tempenya dinaikkan, bisa semakin turun daya beli masyarakat,” tuturnya dilanda kegalauan.

Hal senada diungkapkan oleh perajin tempe lainnya, yaitu Alban (38).

Guna menjaga keberlangsungan usaha yang sudah dijalankan turun-temurun tersebut, Alban bersama para perajin tempe hanya bisa berharap kepedulian pemerintah menjaga stabilitas harga kedelai.

“Semoga pemerintah bisa mengambil kebijakan yang bisa memberikan solusi terhadap keberlangsungan para perajin tempe yang masih bergantung pada bahan baku kedelai impor,” harap Alban. (*)

Berita Ini Sudah Muncul di TRIBUNNEWS.COM

Editor: Didik Trio
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved