Mereka Bicara

Antara Kanal Qatar dan Tembok Berlin

Arab Saudi dan Qatar tetap memilih untuk berselisih dan berkonflik, yang kian hari kian memanas, tajam dan meruncing.

Antara Kanal Qatar dan Tembok Berlin
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

OLEH: AHMAD BARJIE B, Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari, Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel

Meskipun jemaah haji Qatar diizinkan masuk Arab Saudi pada musim haji 2018, hal itu rupanya bukan indikator membaiknya hubungan kedua negara. Arab Saudi dan Qatar tetap memilih untuk berselisih dan berkonflik, yang kian hari kian memanas, tajam dan meruncing. Sudah lebih 14 bulan kedua negara saling memutus hubungan diplomatik, memulangkan duta besar bahkan juga saling usir warganegara. Saudi juga memutus jalur darat dan udara, sehingga Qatar nyaris terisolasi dari negara-negara tetangganya.

Baca: Hotman Paris Hutapea Doakan Warga Banjarmasin Agar Semakin Kaya, Warganet Malah Fokus ke Cincinnya

Tak cukup sampai di situ, sekarang pemerintah Arab Saudi akan membuat kanal raksasa dengan lebar 200 meter sepanjang 60 km. Dengan adanya kanal tersebut maka daratan Saudi yang semula bersatu dengan Qatar nantinya akan terpisah dan Qatar akan menjelma menjadi pulau baru yang tidak lagi satu tanah dengan negara Arab terbesar tersebut.

Baca: Mahfud MD: Bukan Pakar Hukum yang Ngomong Gerakan 2019 Ganti Presiden Makar

Saud al-Qahthani, penasihat senior putra mahkota Kerajaan Saudi Pangeran Muhammad bin Salman menyatakan, ia sudah tidak sabar lagi untuk melihat pengerjaan proyek senilai 2,8 miliar Riyal Saudi atau senilai Rp 11 triliun tersebut. Karena itu sejumlah perusahaan besar sudah diundang, dan pemenang tender akan segera menyegerakan proyek bersejarah tersebut.

Mengulang Sejarah Hitam
Rencana pengerjaan kanal raksasa yang akan memisahkan geografi Saudi - Qatar ini tidak berlebihan untuk kita sebut sebagai pengulangan sejarah hitam hubungan antar negara atau pecahan negara. Di era Perang Dingin tahun 1960-an, tepatnya sejak 13 Agustus 1960 dibangun Tembok Berlin sepanjang 154 km, yang memisahkan antara Jerman Barat yang berpihak kepada Amerika cs (Blok Barat) dengan Jerman Timur.yang memihak Uni Soviet cs (Blok Timur).

Tembok beton terpanjang di dunia sesudah Tembok Besar Cina (lebih 1000 km,) dan Tembok Pembatas Israel-Palestina (700 km) tersebut dibangun untuk menghalangi masuknya warga Jerman Timur pro Soviet yang dicurigai akan menghidupkan kembali paham Nazi warisan Adolf Hitler. Jerman Barat sempat kecolongan karena diperkirakan dalam masa transisi sebanyak 3,5 juta warga Jerman Timur telah menyeberang ke Jerman Barat. Adanya Tembok Berlin berhasil mencegah infiltrasi tersebut, sehingga selama lebih 30 tahun usianya, ditengara hanya 5000 warga Jerman yang berhasil menyeberang perbatasan, 200 diantaranya tewas ditembak penjaga tembok.

Baca: Puluhan Santriwati Banjarbaru Terserang Campak Rubella, Dikarantina Sampai Dilarang Bertemu Temannya

Tetapi setelah menurunnya suhu Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet, Tembok Berlin diruntuhkan oleh warga kedua negara pada 9 November 1989, dan selanjutnya pada 3 Oktober 1990 dilakukan reunifikasi kedua Jerman, sehingga tak ada lagi dua Jerman dan, otomatis Tembok Berlin dihancurkan karena sudah kehilangan arti.
Negara lain yang memilih membangun tembok pembatas adalah Israel. Meski sangat menguras dana dan menuai protes dunia, Israel tidak peduli. Israel rela menghabiskan dana besar untuk membiayai aliran listrik bertegangan tinggi, sepanjang tembok ketimbang memasok listrik untuk Palestina yang hanya menyala beberapa jam sehari. Tanpa tembok Israel mengaku rentan dimasuki pejuang Palestina yang akan melakukan aksi “terorisme”.

Korea Selatan dan Korea Utara juga bermusuhan, Tetapi mereka tidak membuat tembok atau kanal raksasa. Keduanya hanya membuat zona demiliterisasi Panmunjong, yang tidak boleh dilintasi oleh tentara atau warga sipil kedua negara.

Indahnya Bersatu
Apa yang diperselisihkan oleh Saudi dan Qatar sebenarnya amat politis dan temporal. Saudi menuduh Qatar terlalu dekat dengan Iran, sementara Saudi tengah bersaing dengan Iran dalam memperebutkan pengaruh di Timur Tengah. Saudi juga menuduh Qatar mendukung gerakan teroris di Saudi dan negara lain, padahal rumus teroris itu sendiri tidak jelas.

Celakanya Saudi tidak ingin bermusuhan sendirian dengan Qatar, tetapi mengajak negara lain yang sehaluan dan sama kepentingan. Sejauh ini Uni Emirat Arab dan Bahrain sudah memihak Saudi dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, begitu juga dengan Mesir. Mesir ikut memusuhi Qatar karena negeri Arab kaya ini sejak lama menampung ulama oposan kaliber dunia asal Mesir yaitu Syekh Yusuf al-Qardhawi. Dari Qatar Qardhawi selalu mengeritik pemerintah Mesir, sejak era Hosni Mubarak hingga kini. Qatar mendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Moursi, dan enggan mengakui legitimasi Abdul Fattah al-Sisi yang menjadi Presiden Mesir sekarang.

Sejauh ini hanya Turki yang berani bersikap tegas mendukung Qatar dan membantu kebutuhan Qatar. Qatar pun membalas kebaikan Turki dengan membantu ratusan triliun, sehingga Turki yang sempat dilanda krisis ekonomi akibat embargo Amerika dapat memulihkan kondisinya.
Kuwait sebagai negara tetangga berusaha netral. Bersama Amerika Serikat, kedua negara menawarkan mediasi untuk meredakan hubungan Saudi-Qatar, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasil. Saudi sebagai negara yang merasa lebih besar dan kaya tidak mau mengalah.

Dalam kondisi begini peran Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) sangat diperlukan,. Sebab apa yang terjadi dengan Saudi dan Qatar sesungguhnya adalah konflik antara sesama negara Islam, bahkan sesama negara Arab. Terbaginya Semenanjung Arabia dalam sejumlah Negara Arab memang warisan sejarah kolonial Inggris, Perancis, Italia, Amerika dan sebagainya, tetapi sekarang seharusnya tidak diteruskan lagi dalam bentuk konflik.

Sekarang banyak negara nonmuslim menyadari kekeliruan sejarah, sehingga mereka memilih bersatu daripada berpecah. Selain bersatunya kedua Jerman dan bersatunya Eropa dalam Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) dan mata uang,Euro, dua Korea kelihatannya tak lama lagi juga akan bersatu. Apalagi Presiden AS Donald Trump yang selama ini menjadi pendukung utama Korea Selatan sudah bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura bulan lalu. Cina Daratan (RRT) dan Taiwan diperkirakan nanti akan bersatu, sebab kedua negara lebih banyak kesamaannya daripada perbedaan. Sebelumnya RRT juga sudah berhasil bersatu dengan Hongkong (1997) dan Macao (1999).

Seharusnya semua negara muslim menyadari pentingnya persatuan, sebab dari persatuan itulah bisa dilahirkan kekuatan dan perdamaian. Selama konflik antar dan internal negara tidak disudahi, selama itu pula misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin sulit diwujudkan. Sinyalemen Rasulullah lebih 14 abad lalu, bahwa perpecahan adalah bahaya terbesar umat Islam, mestinya disadari dengan mengupayakan agar perpecahan itu dihindari. Sebab tidak ada manfaat apa pun yang bisa diperoleh dari konflik dan pertikaian. Alangkah mulia jika biaya besar membuat kanal itu misalnya digunakan menolong Palestina, Rohingya dan anak bangsa lainnya yang terkena bencana.

Fenomena perpecahan di negara muslim ini hendaknya juga menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Kita bersyukur, karena meski dipisahkan oleh laut dan kita negara kepulauan, Indonesia bisa bersatu dalam NKRI. Arab Saudi meski tanahnya disatukan Allah swt dengan Qatar, namun memilih untuk membuat “laut” agar berpisah dengan saudara muslimnya, hanya karena politik kekuasaan yang bersifat sementara. Wallahu a’lam. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved