Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS

Eksportir di Kalsel Nikmati Kenaikan Pendapatan, Gapki Genjot Ekspor Olahan Sawit

Beberapa waktu belakangan harga batu bara di pasar dunia sempat alami kenaikan harga hingga melebihi USD 100 per metrik ton.

Eksportir di Kalsel Nikmati Kenaikan Pendapatan, Gapki Genjot Ekspor Olahan Sawit
Banjarmasinpost 06 09 2018 A 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - PARA pengusaha crude palm oil (CPO) dan batu Bara di Kalsel merasakan kenaikan pendapatan selama momen apresiasi nilai dollar AS terhadap rupiah.

Solihin, Ketua Asosiasi Pemegang Izin dan Kontraktor Tambang (Aspektam) Kalimantan Selatan tak menampik beberapa pengusaha batu bara Kalsel yang berorientasi ekspor mengalami peningkatan pendapatan.

Apalagi, sebut dia, beberapa waktu belakangan harga batu bara di pasar dunia sempat alami kenaikan harga hingga melebihi USD 100 per metrik ton.

Meski begitu, lanjut dia, pengaruh ini cukup terbatas karena tidak terlalu banyak anggota Aspektam Kalsel berorientasi ekspor. "Hanya sekitar 20 persen pasarnya ekspor, kebanyakan kawan-kawan yang dulu aktif tidak perpanjang izin usaha pertambangan (IUP)," ujar Solihin kepada BPost, Rabu (5/9/2018).

Hal itu, sebut dia, disebabkan setelah perubahan aturan soal perizinan banyak anggota Aspektam kesulitan memenuhi persyaratan perizinan baru.

Baca: Pengusaha Tambang Kalsel Siap Simpan Rupiah, Lakukan Penarikan Dana Hasil Ekspor

Baca: Gapki Kalsel: 20 Persen Dollar AS Dana Ekspor Buat Bayar Utang, Sisanya Dikonversi ke Rupiah

Baca: Eksportir Perikanan Kalsel Sebut Pelemahan Rupiah Tak Pengaruhi Penjualan

Melihat peluang keuntungan besar sektor ekspor, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pun menargetkan menggenjot 10 hingga 20 persen ekspor produk-produk hasil olahan kelapa sawit

Kata Totok Dewanto, Ketua Gapki Kalsel hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang berusaha genjot neraca ekspor Nasional perkuat perekonomian Indonesia ditengah bayangan ancaman krisis perekonomian di negara-negara regional Asia.

"Dolar tinggi memang kawan-kawan yang ekspor menikmati keuntungan. Untuk pasar baru, kalau bisa tembus diprediksi bisa genjot 10 sampai 20 persen ekspor produk kita," kata Totok.

Namun menurut Totok masih ada tantangan dalam strategi ini, khususnya di Afrika. Dimana Maroko yang berminat atas produk minyak goreng curah meminta produk minyak goreng yang disuplai berupa minyak goreng merah.

Baca: Petambak Kotabaru Tak Nikmati Untung Dollar, Justru Cemas Harga Kebutuhan Pokok Ikut Naik

Baca: Rupiah Melorot ke Level Psikologis Rp 15 Ribu, Terungkap Fakta & Ini 5 Penyebabnya

Baca: Harga Dollar Kian Melejit, Presiden Jokowi Sebutkan Dua Hal Untuk Meningkatkan Ekonomi Indonesia

Selain Afrika, Rusia juga menjadi negara potensial yang berminat serap produk-produk CPO dan turunannya asal Indonesia. "Sambutan mereka saat kami expo di sana sangat positif, bahkan diminta buka kantor perwakilan di sana," kata Totok.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help