Berita Banjarbaru

Kadinkes Sebut Kasus Campak di Banjarbaru Sudah Masuk KLB, Kirim 52 Sampel ke Laboratorium

Setelah menyerang 49 santri putri di dua pondok pesantren, jumlah penderita bertambah sebanyak 9 orang, Kamis (6/9/2018).

Kadinkes Sebut Kasus Campak di Banjarbaru Sudah Masuk KLB, Kirim 52 Sampel ke Laboratorium
kompas tv
Ilustrasi Campak Rubella 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Kasus serangan penyakit campak di Banjarbaru yang terjadi sejak Rabu (5/9/2018) terus meluas. Setelah menyerang 49 santri putri di dua pondok pesantren, jumlah penderita bertambah sebanyak 9 orang, Kamis (6/9/2018).

Kesembilan orang yang terkena serangan campak rubella merupakan siswa SMAN 2 Banjarbaru.

Kadinkes Kota Banjarbaru, Agus Widjaja mengklarifikasi campak yang terjadi di Banjarbaru. Saat ini diakuinya kasus campak di Banjarbaru masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB). Khususnya di daerah Landasanulin dan Lianganggang.

"Kejadian yang terjadi saat ini campak, sudah diserahkan darahnya sebanyak 52 sampel untuk diuji laboratorium apakah campak murbeli atau jiga ada kandungan rubella di dalamnya," jelasnya kepada Banjarmasinpost.co.id.

Baca: Serangan Campak Rubella di Banjarbaru Meluas, Setelah 49 Santri, Giliran 9 Siswa SMAN 2 Terjangkit

Baca: Puluhan Santriwati Banjarbaru Terserang Campak Rubella, Dikarantina Sampai Dilarang Bertemu Temannya

Baca: Campak Rebella Serang 49 Santri Putri Dua Ponpes di Banjarbaru, Virusnya Diduga Berasal dari Sini

Selama ini berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan terdeteksi bahwa campak yang dialami beberapa masyarakat di Indonesia mengandung rubella. Oleh karena itu vaksin MR diberikan untuk mencegah penyebaran virus campak rubella.

"Campak baik itu morbeli dan rubella sama-sama membahayakan karena jika sampai tertular ke ibu hamil maka anak yang dikandung bisa mengalami cacat jantung bocor, tuli dan lain-lain," jelasnya.

Terkait ibu melahirkan bayi dalam keadaan cacat sebutnya bisa jadi karena si ibu terkena campak saat hamil sehingga bayi yang dilahirkan cacat. Namun karena jaman dahulu virus rubella belum terdeteksi maka campak hanya disebut sebagai campak dan kerumut yang tak membahayakan. Padahal dibeberapa darah penderita campak terdeteksi mengandung rubella.

"Iya bisa jadi, coba tanya ke ibu yang anaknya cacat, dulu pernah campak tidak waktu hamil," ujarnya.

Baca: Ruhut Sitompul Sebut Ahok Akan Nikahi Polwan Cantik Januari 2019, Begini Kisah Cintanya

Baca: Inikah Sosok Polwan Calon Istri Ahok, Foto Bripda PND Tersebar di Media Sosial

Baca: Djarot Jadi Comblang Ahok Hingga Pilih Polwan Mantan Ajudan Veronica Tan untuk Jadi Istri

Terkait pemberian imunisasi campak dr Agus menjelaskan anak yang pada saat bayi sudah mengikuti imunisasi campak bisa saja tertular campak lagi diusia remaja dan dewasa karena antibodi yang diberikan melalui imunisasi mulai menipis. Meski begitu campak yang dialami oleh anak yang pernah melakukan imunisasi dan tidak pernah sama sekali akan berbeda gejalanya.

"Oleh karena itu pemberian vaksi harus diberikan ulang setelah anak mulai besar," ucapnya.

Dalam beberapa hari hasil analisa laboratorium sebutnya akan segera diserahkan ke Dinkes Kota Banjarbaru.

Gejala campak dan rubella sendiri sebutnya sama yaitu bercak merah hingga mata merah.
(Banjarmasinpost.co.id /milna)

Penulis: Milna Sari
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help