Berita Banjarmasin

Kai Kodak Tetap Bertahan dengan Studio Foto Jadul, Hasil Cetakannya Bertahan Puluhan Tahun

Lelaki berusia 73 tahun ini tetap mempertahankan jasa cuci cetak foto roll seluloid yang sudah digelutinya sejak tahun 1960 an.

Kai Kodak Tetap Bertahan dengan Studio Foto Jadul, Hasil Cetakannya Bertahan Puluhan Tahun

BANJARMASINPOST.CO.ID - Teknologi modern digital terus berkembang pesat, namun teknologi fotografi konvensional masih tetap bisa dinikmati dan dibutuhkan banyak orang. Seperti cuci cetak foto konvensional yang digeluti Ruslan hingga kini.

Lelaki berusia 73 tahun ini tetap mempertahankan jasa cuci cetak foto roll seluloid yang sudah digelutinya sejak tahun 1960 an.

Ruslan – atau kerap disapa Kai Kodak-- bersama gerobak yang dibentuknya menjadi studio, Kai Kodak mangkal mulai pukul 17.00 s.d 20.30 Wita di samping Kantor Pelayanan Pajak, di kawasan Pasar Malam Belauran, Jalan Brigjen Katamso, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin.

Dia tak peduli dengan perkembangan fotografi yang semakin canggih. Kai Kodak tetap memilih bertahan dengan studio fotografinya yang sudah jadul. Meskipun dalam sehari dirinya tidak mendapat pelanggan sama sekali.

Baca: Maia Estianty dan Mulan Jameela Terlihat Ngobrol di Ultah Al, Ahmad Dhani : Maia Mau Berhijab

Baca: Puluhan Santriwati Banjarbaru Terserang Campak Rubella, Dikarantina Sampai Dilarang Bertemu Temannya

Baca: Puluhan Santriwati di Banjarbaru Positif Terserang Campak Rubella, Dikarantinanya Cuma di Sekolah

"Kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada sama sekali. Tapi, daripada aku di rumah sendiri, lebih baik aku ke sini. Ini khusus mencetak aja sekarang. Dulu memfoto juga, tapi sekarang udah tidak lagi. Dulu memfoto pengantinan, memfoto untuk ijazah juga," tuturnya pada BPost, Rabu (5/9/2018) sore.

Alat yang digunakannya untuk mencetak foto negatif tidak menggunakan tinta pada umumnya. Melainkan menggu akan obat khusus dan kertas khusus.

"Kertasnya ini sulit nyarinya. Di Banjarmasin ini tidak ada yang jual kertasnya ini. Di Jawa saja ada yang jual," ungkapnya.

Untuk membeli kertas tersebut dirinya harus menitip pada temannya, dan harus menunggu cukup lama untuk membeli ke Jawa. Terkadang ada temannya yang membelikan secara gratis untuk Kai Kodak.

Dirinya mengaku sudah ingin berhenti menjalani profesi ini. Bukan karena sepi atau lain hal, tetapi dirinya ingin istirahat saja di masa senja tersebut.

"Sebenarnya aku ini sudah mau berhenti kerja ini. Tapi teman-temanku itu tidak membolehkan aku berhenti. Jadi, mereka membelikan kertas sama obat untuk tetap bertahan kerja ini," jelasnya.

Baca: News Analysis Dosen FEBI UIN Antasari M Rifqi : Masyarakat Perlu Memahami Bukan Seperti 1998

Baca: Petambak Kotabaru Tak Nikmati Untung Dollar, Justru Cemas Harga Kebutuhan Pokok Ikut Naik

Baca: Nilai Tukar (Kurs) Rupiah Anjlok, Tagar #RupiahLongsorJokowiLengser Trending Topic di Twitter

Kai Kodak berujar foto yang dihasilkan dari cetakannya sangat berkualitas. Berbeda halnya dengan cetak foto menggunakan tinta printer sebagaimana foto studio lainnya. Meskipun foto yang dihasilkan Kai Kodak hanya berwarna hitam putih, namun dapat bertahan hingga puluhan tahun.

"Digital itu hasilnya lain dengan ini. Kalau tinta yang disuntuk bisa luntur. Tapi kalau yang pakai obatku ini, bisa sepuluh tahun lebih tidak luntur," ungkapnya.

Dirinya menunjukan foto yang dicetaknya tahun 1965 hingga tahun 2018 masih terpajang jelas di gerobaknya. Gerobak Kai Kodak banyak di pajang foto-foto hitam putih hasil cetakannya.

Dia mengaku memiliki komputer sebanyak dua unit. Namun dirinya enggan memakainya, karena tidak ada yang mengoprasikan. "Padahal aku ada komputer di rumah, ada dua CPU nya. Dulu anakku yang makai, sekarang mangkrak," tuturnya.

Dirinya mengaku hanya hidup dari profesi cetak foto negatif. Istrinya sudah lama meninggal. Sedangkan, anak-anaknya sudah kerja semua. Mau tidak mau dirinya harus bekerja, dan mencukupi kehidupan sehari-harinya.
Harga yang ditawarkan untuk cetak negatif foto memang cukup mahal ketimbang foto cetak biasa di foto studio. Untuk ukuran 4x6 dikenakan biaya Rp 2.500, sedangkan untuk cetak foto ukuran 3R seharga Rp 15.000. (banjarmasinpost.co.id/air)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved