Tajuk

Rupiah Tidak Sendiri

Kehebohan pun terjadi. Terlebih saat ini Indonesia sedang memasuki tahun politik. Merosotnya nilai rupiah tak ayal menjadi bahan empuk

Rupiah Tidak Sendiri
kontan
dollar amerika serikat 

HAMPIR sebulan terakhir mata uang rupiah terus merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan kian tajam penurunannya kemarin. Bahkan hampir menyentuh angka psikologis Rp 15 ribu per dolar AS.

Kehebohan pun terjadi. Terlebih saat ini Indonesia sedang memasuki tahun politik. Merosotnya nilai rupiah tak ayal menjadi bahan empuk untuk digoreng dengan menunjuk pemerintah sebagai pihak yang disalahkan. Tentu saja sasaran utamanya adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sudah memastikan diri maju kembali sebagai calon presiden pada Pilpres 2019.

Di pihak pemerintah, mulai para menteri terkait maupun politisi, akademisi, pakar ekonomi, hingga tokoh yang pro-Jokowi memberikan berbagai argumen terkait pelemahan rupiah. Arahnya jelas agar keterpurukan nilai tukar rupiah tidak semata-mata dan selalu dikaitkan dengan kebijakan ataupun dianggap sebagai ketidakberdayaan pemerintahan Jokowi.

Baca: BI Gelontorkan Rp 11,9 Triliun Katanya untuk Jaga Rupiah, Buktinya?

Di pihak lain, tentu saja yang berseberangan dengan Jokowi, muncul juga pengamat, pakar, ahli ekonomi menganalisa pelemahan rupiah dalam perspektif sebaliknya, yang intinya menilai pemerintahan di bawah Jokowi tidak becus mengendalikan dan mengamankan rupiah.

Lalu bagaimanakah kondisi sebenarnya rupiah? Sulit menjawab ini kalau berpegang pada argumen pemerintah atau analisa pihak yang berseberangan. Karena, kedua-duanya bisa saja mempunyai alasan dan dasar pemikiran sesuai pengetahuan dan ilmu yang dimiliki.

Mengutip dari CNBC, nilai tukar rupiah adalah salah satu mata uang yang berkinerja terburuk pada perdagangan kemarin. CNBC menyebut rupiah jatuh ke level terendah dalam kurun 20 tahun terakhir, yakni bertengger di angka Rp 14.940 hingga Rabu (5/9) siang. Angka tersebut melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi pada pembukaan perdagangan, yakni Rp 14.925 per dolar AS.

Baca: Ahok Bakal Nikahi Bodyguard Veronica Tan, Sang Polwan Setia Menemani di Mako Brimob

Sedemikian parahkah rupiah? Ternyata, rupiah tidak sendiri. Sejumlah mata uang negara-negara lainnya pun kemarin dan beberapa pekan terakhir mengalami nasib yang sama. Peso misalnya. Kemarin mengalami penurunan sekitar tiga persen. Bahkan sepekan sebelumnya mata uang Argentina ini terjun bebas 16 persen dan sepanjang tahun ini telah merosotnya hampir 50 persen.

Mata uang lainnya yang tergilas adalah rupee India, tujuh hari berturut-turut dan kemarin menyentuh level 71,78 per dolar AS. Kemudian, lira Turki juga merosot. Mata uang Afrika Selatan, rand, juga melorot tiga persen.

Memang, sebagian besar negara berkembang mengalami nasib serupa dengan Indonesia, mata uang mereka tergerus oleh dolar AS. Namun, kondisi senasib dengan negara-negara lainnya itu, bukan menjadi alasan untuk membiarkan rupiah terus tertekan. Resep manjur pemerintah untuk menyembuhkan rupiah sangat ditunggu.

Baca: Rupiah Makin Terpuruk, Pertamina Janji Tak Naikkan Harga BBM

Apalagi para analis menyatakan investor tidak perlu panik hanya karena sentimen negatif ini. Karine Hirn dari East Capital mengungkapkan, tekanan ini sebagian diatribusikan dengan penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, namun demikian isu sebenarnya adalah sentimen para trader.

Itu artinya, mestinya masih ada celah bagi pemerintah menemukan obat mujarab untuk mendongkrak rupiah. Terlebih tim ekonomi pemerintah saat ini diisi oleh orang-orang mumpuni bahkan kaliber internasional.

Saat ini, kita masih bisa sedikit lapang dada karena rupiah tidak sendiri. Tapi besok atau lusa, jangan sampai rupiah justru tertinggal sendirian. Pemerintah jangan lengah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved