Berita Banjarmasin

Di Hari Tuanya, Kakek ini Harus Berjuang Mengumpulkan Rupiah untuk Mengobati Ginjal yang Sakit

Keduanya harus membanting tulang demi memenuhi kebutuhan harian sebagai pengumpul kardus bekas.

Di Hari Tuanya, Kakek ini Harus Berjuang Mengumpulkan Rupiah untuk Mengobati Ginjal yang Sakit
banjarmasinpost.co.id/abdul ghanie
ia juga menunjukkan bagian luka bekas operasi ginjalnya yang semula sudah ia jalani sekitar dua bulan yang lalu di sebuah rumah sakit di Banjarmasin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - MASA tua bisa menikmati hidup bahagia menjadi harapan semua orang.

Termasuk Mariatun (55) dan Subandi (65), warga RT 47 Kelurahan Sungai Andai Kecamatan Banjarmasin Utara Kalsel.

Sayangnya harapan tersebut kosong, karena Mariatun dan Subandi kini hidup memprihatinkan.

Di masa tuanya dia harus berjuang melawan tumor yang ada di ginjal.

Keduanya harus membanting tulang demi memenuhi kebutuhan harian sebagai pengumpul kardus bekas.

Baca: Calon Istri Ahok Bripda Puput Nastiti Devi: Bertugas di Mabes Polri, Tak Cocok dengan Veronica Tan

Di usia senja, Subandi, suami Mariatun kini juga harus dihadapkan melawan penyakit kronisnya.

Ironisnya atas penyakit tersebut, Subandi juga terancam kehilangan salah satu ginjalnya.

Itu dikarenakan organ tubuh pria berusia

Baca: Kartika Putri Tegaskan Posisinya Bukan Istri Kedua, Habib Usman Berstatus Duda

65 tahun tersebut mengidap tumor, sehingga mengharuskan ginjal kanannya menjalani pengangkatan.

Saat ditemui di kediamannya, Kamis (6/9) siang kemarin, Subandi tampak bergerak pelan dari tempat tidur menuju pintu rumahnya.

Baca: BKN Resmi Aktifkan Situs Pendaftaran CPNS 2018 sscn.bkn.go.id Pada 19 September, Pendaftaran Dibuka

Seraya mengangkat baju, ia juga menunjukkan bagian luka bekas operasi ginjalnya yang semula sudah ia jalani sekitar dua bulan yang lalu di sebuah rumah sakit di Banjarmasin.

Subandi mengaku luka tersebut merupakan bekas operasi prostat dan batu ginjal yang yang semula sempat bersarang di tubuhnya pertengahan 2018 tadi.

Penyakit tersebut sebelumnya telah ia derita sekitar 2017 lalu.

Operasi pun berjalan lancar pertengahan 2018 tadi.

Sementara Subandi yang mengira hanya tinggal menjalani pemulihan, namun kenyataan berkata lain.

Luka bekas operasi tersebut menyisakan membengkak.

Ia juga merasakan sakit dan berair, sebelum akhirnya kemudian berinisiatif memeriksakan diri ke dokter.

"Nah, seiring itu juga ternyata kata dokter di ginjal kanan saya ada noda hitam. Noda tersebut katanya, kalau tidak tumor atau kanker. Sehingga agar tidak menyebar ke organ lain, ginjal saya disarankan agar diangkat," terang Subandi.

Namun persoalan lagi-lagi datang pada biaya tindakan pengobatan.
Pasalnya, bila Subandi sebelumnya masih bisa menggunakan BPJS, kini tidak lagi.

Itu dikarenakan jasa pelayanan kesehatannya tersebut mengalami tunggakan.

"Iya. Kan sebelum ke dokter, saya biasanya periksa ke BPJS dulu sekaligus mendapatkan rujukan operasi. Nah sejak itu, saya diberitahukan kalau BPJS saya mengalami tunggakan selama empat bulan," jelasnya.

Sementara menurut Subandi, demi mendapatkan kesehatan pada ginjalnya tersebut, ia mendapatkan waktu sekitar tiga setengah bulan sebelum operasi.

"Awalnya cuma satu bulan. Tapi dokter masih beri waktu tiga setengah bulan, agar ginjal saya diangkat," ujarnya.

Sementara Mariatun, istri Subandi mengaku sangat bingung mencari cara atas biaya pengobatan suaminya.

Apalagi dengan penghasilannya sebagai pencari kardus bekas.

"Kerjaan saya cari kardus atau tempat telur bekas. Biasanya saya jual dan hasil untuk beli beras," ungkapnya.

Sementara Ketua RT 47 Kelurahan Sungai Andai, Imul mengaku sudah mengetahui kondisi warganya tersebut.

Bahkan demi meringankan kehidupan Mariatun dan Subandi, ia beserta warganya juga tidak jarang memberikan bantuan.

"Kami sebetulnya juga sedang berupaya mencarikan cara agar mbah pun bisa menjalani operasi nantinya," ujarnya.

Mariatun dan Subandi, menurut Ketua RT 47 itu sebetulnya memiliki anak.

Namun lantaran mengalami sedikit permasalahan, sehingga kondisi keduanya kurang mendapatkan perhatian.

"Iya kasian mbah. Bahkan beberapa waktu yang lalu mereka juga sempat meminta izin menempati posko untuk tempat tinggal, tapi kami larang. Makanya, kami pun sebetulnya masih mencarikan solusi, baik mediasi dengan anaknya maupun bantuan biaya operasi nantinya, " jelas Imul.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved