Esai Zulfaisal Putera: Bungas Mulai dalam Parut

Sorot mata perempuan Solo sayu, Jogja lebih tajam. Soal bergerak, perempuan Solo cenderung alon, sedangkan Jogja sedikit lebih gesit.

Esai Zulfaisal Putera: Bungas Mulai dalam Parut
istimewa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Selalu bikin penasaran ketika dikatakan salah satu daya tarik kota Solo adalah perempuan-perempuannya yang cantik jelita. Bahkan, kecantikannya konon melebihi perempuan kota Jogjakarta tetangganya. Apalagi dibanding perempuan Jawa secara keseluruhan, kecantikan perempuan Solo tetap dianggap di atas rata-rata.

Kecantikan Putri Solo, demikian publik menyebut perempuan Solo, memang takbisa dilepaskan dari kehadiran keraton yang sudah melegenda di kota. Para raja raja Jawa memang menurunkan putri-putri yang ayu, yang taksekadar cantik, tetapi juga menawan dan anggun. Imbasnya tentu juga melekat ke wajah-wajah perempuan Solo pada umumnya.

Baca: Hasil Kualifikasi MotoGP San Marino 2018 Italia, Lorenzo Pole Position, Marquez ke-5, Rossi?

Menarik menelisik mengapa Putri Solo dikatakan masih lebih cantik daripada Kenya Jogja – Kenya itu sama dengan gadis atau Diajeng istilah yang popular sekarang. Secara fisik, wajah perempuan Solo lebih tirus sedangkan Jogja agak oval.

Sorot mata perempuan Solo sayu, Jogja lebih tajam. Soal bergerak, perempuan Solo cenderung alon, sedangkan Jogja sedikit lebih gesit.

Bisa jadi perbandingan itu subjektif. Tersebab hakikatnya Putri Solo dan Jogja itu berasal dari trah yang sama, yaitu Mataram.

Menjadi dua kubu karena Perjanjian Giyanti Tahun 1755 yang mendamaikan antara Adipati Anom dan Pangeran Mangkubumi akibat pecahnya Kerajaan Mataram. Anom diberi gelar Sunan menjadi raja di Solo dan Mangkubumi bergelar Sultan raja di Jogja.

Baca: LIVE STREAMING Inggris Vs Spanyol UEFA Nations League via Link Live Streaming Supersoccer.tv

Jika membaca sejarah, yang mengangkat Anom yang menjadi raja di Solo adalah VOC Belanda, sedangkan Mangkubumi di Jogja diangkat langsung oleh rakyat Mataram. Ini berpengaruh kepada bangunan keraton masing-masing.

Di Solo, bangunannya kental dengan nuansa Eropa, termasuk beberapa patung ala Yunani. Sementara di Jogja, bangunannya kental dengan Hindu Jawa.

Apakah campur tangan Belanda atas lahirnya keraton Solo juga mempengaruhi kecantikan Putri Solo? Wallahu alam. Namun, ada juga pendapat sempurnanya kecantikan Putri Solo karena paduan dua keraton di kota itu, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Mangkunegaran Surakarta. Sementara keraton Jogja hanya satu yaitu Kesultanan Ngajogjakarta Hadiningrat.

Kecantikan Putri Solo ini pernah membuat geger dunia percintaan di negeri ini. Adalah Gusti R.A. Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau dikenal dengan Gusti Noeroel (1921-2015), Putri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII, yang membuat patah hati Sri Sultan Hamengku Buwana IX, Sutan Syahrir, dan Presiden Soekarno.

Sebagai orang yang berlatar ilmu kebahasaan, saya mencoba mencari metafora tentang Putri Solo. Ini beranjak pada esai saya yang berjudul ‘Kandangan, Cing ai!’ dua tahun yang lalu tentang metafora perempuan kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kecantikan perempuan Kandangan disebut Pariwantan, artinya ‘bayangannya saja cantik’ – apalagi orangnya.

Itulah penggalan esai Zulfaisal Putera berjudul Bungas Mulai dalam Parut. Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi, Minggu (09/09/2018).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help