Life Style

Para Ahli Sebut Sering Memuji Anak Pintar Harus Dihentikan, Begini Cara Memujinya

Tapi, memujinya pintar secara terang-terangan ternyata tak baik untuk tumbuh kembang anak.

Para Ahli Sebut Sering Memuji Anak Pintar Harus Dihentikan, Begini Cara Memujinya
kompas.com
Anak Belajar Norma Lewat Interaksi dengan Orangtua 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Anda memiliki anak pintar dengan nilai di atas rata-rata memang sangat membahagiakan.

Sehingga apa yang orangtua upayakan selama ini terasa terbayar dengan melihat anak sukses.

Tapi, memujinya pintar secara terang-terangan ternyata tak baik untuk tumbuh kembang anak.

Menurut hasil penelitian terbaru, anak-anak yang berpikir jika dirinya sudah cerdas cenderung kurang memperhatikan dan bangkit dari kesalahannya daripada anak-anak yang merasa kecerdasan dapat tumbuh dan berubah.

Baca: Live Streaming MotoGP Misano 2018, Marquez Tanggapi Valentino Rossi yang Menolak Berjabat Tangan

Memberi tahu anak-anak bahwa mereka pintar bisa memperkuat pemikiran kecerdasan adalah bakat genetik, bukan keterampilan yang dapat diasah.

Demikian hasil penelitian yang telah diterbitkan oleh jurnal Developmental Cognitive Neuroscience. Riset dilakukan oleh peneliti dari Michigan State University dengan meneliti 123 anak berusia tujuh tahun.

Baca: Segini Gaji yang Bakal Kamu Terima Bila Jadi PNS pada Penerimaan CPNS 2018, Ini Daftar Gajinya

Usia ini diangap sebagai penuh tantangan karena transisi ke sekolah. Tujuan studi adalah untuk menilai apakah anak-anak memiliki mindset yang berkembang dengan mempercayai kepandaian bisa didapatkan dengan kerja keras, atau sebaliknya.

Peneliti kemudian meminta anak-anak untuk menyelesaikan tugas akurasi komputer yang serba cepat sembari merekam aktivitas otak mereka.

Selama perekaman, para peneliti mencatat aktivitas otak melonjak dalam waktu setengah detik setelah anak-anak membuat kesalahan.

Lonjakan aktivitas pada otak terjadi ketika anak-anak menyadari kesalahan mereka dan memberi perhatian lebih pada apa yang salah. Semakin besar respon otak, semakin anak fokus pada kesalahannya.

Baca: Live Streaming MotoGP Misano 2018, Marquez Tanggapi Valentino Rossi yang Menolak Berjabat Tangan

Berdasarkan data yang terkumpul, para peneliti menyimpulkan anak-anak dengan "mindset berkembang" jauh lebih mungkin untuk memiliki respon otak yang lebih besar setelah membuat kesalahan.

Pada gilirannya, ini membuat mereka lebih mungkin untuk meningkatkan kinerja dengan memperhatikan lebih pada tugas mereka setelah membuat kesalahan.

Riset sebelumnya telah menunjukkan orang-orang dengan "mindset tetap" tidak mau mengakui mereka membuat kesalahan. Peluang untuk belajar Memperbaiki kesalahan hanya terjadi jika mereka memberi perhatian penuh pada kesalahan itu.

“Implikasi utamanya di sini adalah kita harus memperhatikan kesalahan kita dan menggunakannya sebagai peluang untuk belajar,” kata Hans Schroder, selaku pemimpin riset.

Baca: Begini Nasib Pengemis yang Kedapatan Bawa Rp 100 Juta Lebih oleh Satpol PP Kandangan

Bagi orangtua, sebaiknya batasi diri untuk terus mengatakan anak pintar, terutama pada anak di usia awal sekolah.

Lalu, bagaimana cara memberi pujian bagi anak yang berhasil menapatkan nilai bagus dalam ujian? Sebagai gantinya, periset menyarankan para orangtua itu mengatakan kalimat, seperti

“Wow, usahamu belajar keras benar-benar terbayar" atau "Kamu pasti menguasai materi pelajaran sehingga pantas mendapat nilai bagus".

Orangtua juga diminta untuk fokus dalam menggunakan kesalahan untuk belajar dan bekerjasama.

"Banyak orangtua dan guru merasa malu menunjukkan kesalahan anak," papar Schroder.

Menurutnya, banyak orangtua dan guru mengatakan hal seperti 'Tak masalah, kau bisa menapatkannya di lain waktu', untuk menghibur hati anak yang kecewa.

Namun, kalimat semacam itu justru tak memberi mereka kesempatan untuk mencari tahu apa yang salah.

"Sebaliknya, kita yakinkan anak jika ia berbuat salah, agar mereka memperhatikan dan bekerja untuk mencari tahu di mana dan bagaimana mereka membuat kesalahan," tambahnya.

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help