Bermula dari Zaman ini, Malam Satu Suro Dirayakan Masyarakat Jawa dengan Meriah, Begini Sejarahnya

Bagi mayarakat Jawa khususnya, pasti sudah tidak asing dengan istilah malam satu suro.

Bermula dari Zaman ini, Malam Satu Suro Dirayakan Masyarakat Jawa dengan Meriah, Begini Sejarahnya
intisari online
Kirab malam satu ruro 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bagi mayarakat Jawa khususnya, pasti sudah tidak asing dengan istilah malam satu suro.

Sebuah malam yang menandai pergantian tahun baru Islam dan dirayakan oleh masyarakat Jawa dengan tradisi mereka.

Perayaan ini adalah ritual yang dirayakan setahun sekali oleh masyarakat Jawa, dan setiap daerah memiliki caranya masing-masing.

Tradisi semacam ini paling kental dirayakan oleh Keraton Surakarta dan Keraton Jogjakarta.

Baca: Kisah Kejamnya G30S/PKI dari Mereka yang Lolos dari Pembantaian di Lubang Buaya

Misalnya di keraton Yogyakarta ada arak-arakan dengan membawa tumpeng mengelilingi keraton.

Sedangkan di keraton Surakarta yang melakukan arak-arakan dengan kebo bule, hewan sakral yang konon merupakan jelmaan Kyai Slamet.

Melihat dari sejarah dan asal-usulnya, sebenarnya tradisi ini bermula saat zaman Sultan Agung berinisiatif memperluas ajaran Islam.

Sekitar tahun 1613 hingga 1645, saat itu masyarakat Jawa lebih mengikuti penanggalan tahun Saka yang diwarisi tradisi Hindu.

Baca: Tahun Baru Islam 1 Muharram, Selasa 11 September 2018, ini Doa Awal Tahun Bahasa Arab & Artinya

Lalu untuk memadukan pemahaman masyarakat dan ajaran Islam Sultan Agung dipilihlah malam 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.

Untuk itulah mengapa setiap malam 1 Suro selalu dirayakan dengan meriah oleh mayarakat Jawa.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Sumber: Intisari Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved