Bermula dari Zaman ini, Malam Satu Suro Dirayakan Masyarakat Jawa dengan Meriah, Begini Sejarahnya

Bagi mayarakat Jawa khususnya, pasti sudah tidak asing dengan istilah malam satu suro.

Bermula dari Zaman ini, Malam Satu Suro Dirayakan Masyarakat Jawa dengan Meriah, Begini Sejarahnya
intisari online
Kirab malam satu ruro 

Namun, lebih dari itu, pada malam dan bulan suro juga kental dengan nuansa mistik dan dianggap sakral, sehingga banyak pantangan yang dilarang dilakukan masyarakat Jawa.

Salah satunya yang paling terkenal adalah larangan menikah bagi masyarakat Jawa, karena banyak mitos muncul akan terjadi kesialan bagi yang nekat melanggarnya.

Baca: Robby Purba Kunci Akun Instagramnya, Sempat Tegur Fans Fanatik Karena Lakukan Ini

Bukan alasan mutlak jika hal ini lantas dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis.

Konon menurut kepercayaan dalam sejarah, Tradisi malam satu suro ini menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan batin.

Untuk itulah pada malam satu suro, biasanya selalu diselingi dengan ritual dan pembacaan doa dari semua umat yang hadir.

Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan berkah dari pergantian tahun dan menangkal datangnya marabahaya.

Selain itu, sepanjang bulan suro keyakinan untuk tidak mengadakan hajatan atau acara tertentu berdasarkan keyakinan untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada dalam melewati titah pergantian tahun.

Sedangkan Waspada berarti manusia diingatkan untuk selalu waspada dari godaan yang menyesatkan.

Sedangkan ritual seperti tirakatan berasal dari bahasa arab 'Thoriqot' jalan yang dimaknai sebagai mencari jalan agar dekat dengan Allah.

Artikel sudah tayang di intisari.grid.id berjudul Bukan karena Hal Mistik, Inilah Alasan Mengapa Masyarakat Jawa Menganggap 'Sakral' Bulan Suro

Editor: Edinayanti
Sumber: Intisari Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help