Tahun Baru Islam

Doa Akhir Tahun Jelang Tahun Baru Islam 2018, 1 Muharram 1440 Hijriyah, Bahasa Arab Beserta Artinya

biasanya umat Islam dianjurkan membaca doa khusus sebagai penutup tahun. Doa akhir tahun dibaca sebelum datangnya

Doa Akhir Tahun Jelang Tahun Baru Islam 2018, 1 Muharram 1440 Hijriyah, Bahasa Arab Beserta Artinya
Airul Syahrif
Para siswa beserta guru MDIM Sei Kindaung ikuti jalan sehat untuk meriahkan tahun baru Islam, Sabtu (8/9/2018) pukul 07.00 Wita. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Doa akhir tahun sepatutnya dipanjatkan sebelum datangnya tahun baru Islam 2018, 1 Muharram 1440 Hijriyah yang bertepatan, Selasa (11/9/2018).

Menyambut tahun baru Islam 2018, 1 Muharram 1440 H, biasanya umat Islam dianjurkan membaca doa khusus sebagai penutup tahun. Doa akhir tahun dibaca sebelum datangnya tahun baru Islam 2018.

Dikutip dari NU Online di artikel yang diterbitkan pada Selasa (13/10/2015), akhir tahun baru Islam merupakan momentum untuk melihat diri sendiri. Jadi, doa akhir tahun sepatutnya dibaca sebelum tahun baru Islam 2018.

Banyak hal terkait diri sendiri yang bisa diperhatikan dengan jujur.

Baca: Persyaratan & Formasi Khusus Honorer K2 di Penerimaan CPNS 2018, Pendaftaran CPNS di sscn.bkn.go.id

Baca: 27 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Kata-kata Mutiara Sambut 1 Muharram 1440 Hijriyah

Baca: Deretan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, 1 Muharram 1440 Hijriah, Bahasa Inggris dan Indonesia

Baca: Ayu Ting Ting Disebut Kampungan Gara-gara Lakukan Ini pada Ivan Gunawan di Depan Bintang Tamu

Segala hal di tahun ini baik berupa kebaikan maupun keburukan diri kita, tidak lepas dari kekurangan.

Untuk itu, ada baiknya penutup tahun diisi dengan doa sebagai bentuk kepasrahan tertinggi kepada Allah.

Berikut ini doa wirid yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dibaca di akhir tahun.

Doa ini dimasukkan oleh Mufti Jakarta abad 19-20, Habib Utsman bin Yahya dalam karyanya Maslakul Akhyar sebagai berikut.

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu.

Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.

Doa yang dibaca sebanyak 3 kali ini diharapkan menjadi akhir tahun yang baik.

Semoga Allah menerima doa yang kita baca di akhir Dzulhijjah sekurang-kurangnya sebelum waktu Maghrib tiba.

Peserta pawai akbar menyambut Tahun Baru Islam
Peserta pawai akbar menyambut Tahun Baru Islam (ist)

Amalan Bulan Muharram

Bulan Muharram disebut juga dengan bulan Al-Asyhurul Hurum.

Jelang Tahun baru Hijriah 1440 H nanti, apakah anda sudah tahu apa itu Al-Asyhurul Hurum, yang mana diantaranya adalah bulan Muharram.

Awal bulan Muharram 1440 H tahun ini bertepatan dengan tanggal 11 September 2018.

Dikutip dari situs Nahdlatul Ulama online, Bulan Muharram merupakan salah satu dari Al-Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimuliakan) oleh Allah SWT yang berjumlah empat, yaitu: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Para ulama' tafsir sepakat tentang empat bulan tersebut yang masuk pada Al-Asyhur Al-Hurum. Dalam surat At-Taubah ayat 36 Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (التوبة : 36)

"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan pada ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

Pada ayat ini dapat dipahami bahwa ketetapan Allah SWT setelah penciptaan langit dan bumi Allah menetapkan bilangan bulan yang berjumlah 12, empat diantaranya adalah bulan-bulan haram (yang di muliakan) bulan yang mendapat keistimewaan dari Allah swt dari pada bulan-bulan yang lain kecuali bulan Ramadlan.

Diantara empat bulan tersebut adalah bulan Muharram, yang mana Allah melarang umat Islam berperang dan melakukan kedhaliman sebagai penghormatan pada bulan Muharram.

Karena bulan Muharram termasuk Al-Asyhurul Hurum, maka bulan Muharram memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan yang tidak dimiliki bulan lain.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan disamping amalan pada bulan tersebut pahalanya dilipatgandakan, keburukannya pun balasannya akan dilipat gandakan.

Maka alangkah baiknya pada bulan Muharram diisi dengan kebaikan-kebaikan serta menjauhi semua larangan-larangan-Nya.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan,

ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وعَظم حُرُماتهن، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ.

Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa disamping melipatgandakan perbuatan baik.

Dalam sebuah hadits riwayat dari Abu Hurairah RA, dijelaskan mengenai ketetapan empat bulan haram ini,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَإِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ، وَرَجَبُ مُضَرَ بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga bulan berturut-turut; Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhirah dan Sya'ban.

Peserta pawai akbar menyambut Tahun Baru Islam
Peserta pawai akbar menyambut Tahun Baru Islam (ist)

Maka jelaslah bahwa empat bulan tersebut memiliki keagungan dan keistimewaan yang sangat luar biasa dari bulan-bulan yang lain kecuali bulan Ramadlan, hingga Allah SWT dan Rasulnya SAW memberi penjelasan khusus mengenai hal ini.

Adapun amalan-amalan baik yang bisa dikerjakan pada bulan Muharram seperti dikutip Banjarmasinpost.co.id dikutip dari berbagai sumber.

1. Anjuran Berpuasa Asyura

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling mulia setelah puasa Ramadan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam” (HR. Muslim)

Puasa Asyura, adalah puasa yang dianjurkan dan pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau yang diriwayatkan Muslim

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah?

Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”

Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).

2. Puasa Tasu’a

Selanjutnya anjuran untuk puasa Tasu’a, yaitu berpuasa pada hari kesembilan bulan Muharam. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“”Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharam).”

Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.” (HR. Muslim no. 1134/2666)

3. Menyantuni Anak Yatim

Menyantuni anak yatim memang tak perlu menunggu bulan Maharram. Namun bila dilakukan di hari Asyuro (10 Muharam), maka Allah akan mengangkat derajatnya.

“Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.”

“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5304).

Nah itulah pengertian serta amalan-amalan baik yang bisa dikerjakan pada 4 bulan Al-Asyhurul Hurum.

(banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal)

Penulis: Yayu Fathilal
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved