Berita Banjarbaru

37 Santri Dinyatakan Positif Rubella, Begini Tanggapan Pengelola Pondok Pesantren di Banjarbaru

Sebelumnya 37 sampel darah yang dinyatakan mengandung virus rubela diambil dari sampel darah pelajar yang dinyatakan positif campak

37 Santri Dinyatakan Positif Rubella, Begini Tanggapan Pengelola Pondok Pesantren di Banjarbaru
istimewa/humas pemko Banjarbaru
Wakil Ketua I TP PKK Kota Banjarbaru Hj Eny Apriyati Darmawan Jaya yang juga seorang petugas kesehatan mengikuti kegiatan pelayanan imunisasi Measles Rubella (MR) atau Campak dan Rubella 

BAJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Dinkes Banjarbaru telah menyatakan 37 darah penderita campak di Banjarbaru terdapat virus rubella di dalamnya, namun hingga kini belum ada bukti hasil laboratorium yang diperlihatkan Dinkes ke sekolah yang diambil sampel darahnya.

Sebelumnya 37 sampel darah yang dinyatakan mengandung virus rubela diambil dari sampel darah pelajar yang dinyatakan positif campak di dua pesantren yang tak disebutkan namanya oleh Dinkes.

Dinkes Banjarbaru menemukan 52 kasus campak di dua pesantren. Namun kemudian hanya 40 sampel yanh dikirim. Hasilnya 37 dinyatakan positif campak yang mengandung virus rubela dan tiga dinyatakan campak yang mengandung virus morbili atau kerumut.

Ketua Pokja Pesantren Kota Banjarbaru, Syamsuni mengatakan hingga kini pondok pesantren tak menerima hasil laboratorium yang menyatakan bahwa sampel darah pelajar mengandung virus rubela.

"Sampai kini belum ada pesantren yang menerima bukti itu," ujarnya, Selasa (11/09/2018).

Baca: Pendaftaran CPNS 2018, BKN Gelar Latihan Gratis Tes CAT di Yogyakarta dan Semarang Cek di Sini

Baca: Hasil Timnas Indonesia Vs Mauritius, Skor 1-0 di Babak Kedua Evan Dimas Cetak Gol

Baca: Timnas Indonesia Taklukkan Mauritius 1-0, Kemenangan Berharga Tanpa Luis Milla

Baca: Sembilan WNI Asal Kalsel Berurusan dengan Penegan Hukum Arab Saudi, Ini Pelanggaran yang Dilakukan

Padahal dengan adanya bukti itu terangnya maka semakin meyakinkan. Namun Dinkes tak juga bisa memberikan bukti.

"Hanya melalui lisan saja disampaikan ke media tapi tidak ada bukti hasil laboratorium," ujarnya kepada Banjarmasinpost.co.id.

Termasuk Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru terangnya yang juga pimpinan pondok pesantren Al Falah Putra ini mengatakan belum menerima bukti dan tidak mendapatkan kunjungan dari Dinkes setelah pengambilan sampel darah.

" Kalau dikatakan pondok pesantren yang kena pasti Al Falah, dan memang benar ada kejadian campak di Al Falah Puteri, tapi kemarin dokter Agus menyatakan bahwa itu campak kerumut bukan rubela, informasi dari Dinkes yang kami dapat juga masih Simpang siur, "jelasnya.

Saat ini terangnya Al Falah juga masih bingung harus melakukan apa karena tak ada kelanjutan kasus campak yang terjadi di Al Falah.

"Sama dengan kasus difteri dulu dikatakan Al Falah juga tapi tidak ada penanganan, selesai begitu saja dan ternyata tidak ada difteri hanya indikasi saja," ujarnya.

Saat ini sebutnya santriwati yang disebut terserang campak sudah sehat dan kembali belajar. Orangtua santriwati pun juga masih menolak diimunisasi MR.

Baca: Link Live Streaming Inggris vs Swiss Uefa Nations League - Siaran Langsung My Supersoccer.tv

Baca: Pendaftaran CPNS 2018, BKN Gelar Latihan Gratis Tes CAT di Yogyakarta dan Semarang Cek di Sini

Baca: Hotman Paris Sindir Berikan Rolex Untuk Roy Suryo, Santuni Mantan Menpora Kembalikan Aset Negara

Baca: Lahan Terbakar, Warga Mabuun Tabalong Sempat Geger karena Tak Jauh dari Permukiman

Pondok pesantren terangnya tak menolak vaksin MR namun karena orangtua santri menolak anaknya di imunisasi maka pihak sekolah tak bisa mengijinkan imunisasi MR di pondok pesantren.

Ponpes Al Falah Putera sendiri ujarnya 98 persen santri menolak imunisasi MR namun ada satu orang santri yang yang melakukan imunisasi secara mandiri karena orang tua santri tersebut berasal dari Dinkes.

"Kami sudah melayangkan surat bahwa Ponpes Al Falah Putera menolak imunisasi MR karena 98 persen orangtua menolak, tapi bagi orangtua yang mau anaknya diimunisasi silakan diimunisasi sendiri di fasilitas kesehatan,"ujarnya.

Sementara di pondok pesantren al-falah putri terangnya sudah dilakukan imunisasi namun dilakukan secara terpaksa karena pondok pesantren al-falah putri dinyatakan positif ada virus rubella.
"Terpaksa karena dinyatakan ada campak rubella,"ujarnya.

Tak hanya Al Falah, pondok pesantren lain di Banjarbaru juga menolak imunisasi MR hal itu dikarenakan vaksin ini dinilai belum darurat.

"Kami mencari yang halal walaupun MUI mengatakan itu boleh dan darurat tapi bagi kami belum darurat kami masih menunggunya vaksin yang halal,"ujarnya.

Baca: Kisi-Kisi Soal CPNS Resmi Dari BKN, Jelang Pendaftaran CPNS 2018 Klik di Sini

Baca: Pelajar SMK Banjarbaru Tewas Setelah Sepeda Motornya Tabrakan dengan Mobil Tangki di Tanahlaut

Baca: Takluk di Markas Blitar United, Martapura FC Langsung Fokus Menghadapi PSS Sleman

Baca: Dinas Kesehatan Banjar Tunggu Hasil Laboratorium Untuk Pastikan Apakah Campak atau Rubella

Ia juga menyesalkan jika demi mengejar target pencapaian imunisasi MR di Banjarbaru, pondok pesantren dijadikan tumbal dengan mengatakan sudah ada santri yang positif campak rubella tanpa ada bukti hasil laboratorium diserahkan ke pondok pesantren.

37 santri yang dinyatakan campaknya positif mengandung virus rubella dinyatakan Dinkes Banjarbaru telah sembuh kecuali 15 orang yang dipulangkan oleh pihak sekolah dan belum diketahui kesembuhannya. (Banjarmasinpost.co.id /milna)

Penulis: Milna Sari
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help