BFocus Daerah

Kotabaru, Tanahlaut dan Tanhbumbu Lumbung Ikan, Tapi 40 Persen Nelayannya Putus Sekolah

Kotabaru, Tanahlaut dan Tanhbumbu Lumbung Ikan, Tapi 40 Persen Nelayannya Putus Sekolah

Kotabaru, Tanahlaut dan Tanhbumbu Lumbung Ikan, Tapi 40 Persen Nelayannya Putus Sekolah
BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah
Nelayan Desa Rampa, Kecamatan Pulau Sebuku saat berada di Gusung Bangau. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Penduduk pesisir Kalimantan Selatan dikenal bermatapencaharian sebagai nelayan. Wilayah pesisir dengan lautan yang luas, membuat mereka merupakan sumber daya potensial bagi mereka menggantungkan nasib.

Namun, melimpahnya sumber daya di laut Kotabaru, Tanahbumbu, dan Tanahlaut tidak serta-merta membuat nelayan di tiga kabupaten itu sejahtera.

Baca: Syarat Wajib untuk Jabatan Khusus Jelang Penerimaan CPNS 2018, Pendaftaran Hanya di sscn.bkn.go.id

Nyatanya, hingga saat ini taraf kehidupan mereka masih berada di garis tengah, bahkan mungkin lebih banyak mengarah ke bawah.

Seperti di Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru.

Sedikitnya 4.000 jiwa atau sekitar 80 persen penduduknya menggantungkan hidup dari laut.

Namun, sebagian dari mereka ternyata putus sekolah. Hampir 40 persen.

Baca: Dipo Latief Minta Balikan, Nikita Mirzani Sebut Masih Cinta, Billy Syahputra Bilang Ini

"Sekitar 40 persen, rata-rata hanya sampai di SD berhenti, ikut melaut. Jarang yang tamat SMP,” kata Zainal, nelayan Desa Rampa, Senin (10/9).

Penyebabnya, karena desakan ekonomi. "80 persen masyarakat di sini bekerja nelayan. Sisanya ada yang pegawai dan bekerja lain. Kalau bertani tidak ada," ujarnya.

Menurut Zainal, ada beberapa faktor menyebabkan ekonomi nelayan Desa Rampa pasang surut.

Kondisi alam seperti cuaca, membuat nelayan susah menangkap ikan, biaya melaut yang tinggi seperti untuk beli bahan bakar kapal.

Peralatan, sebut Zainal, juga menjadi faktor penyebab minimnya pendapatan nelayan. Sebagian besar masih mengandalkan alat tangkap tradisional.

Senada diungkapkan Uzi, nelayan lainnya ditemui di desa Rampa, Kecamatan Pulaulaut Utara, mengakui, karena desakan ekonomi keluarga membuat anak kebanyakan putus sekolah.

Alfian, salah satu remaja tamatan SD, mengaku terpaksa ikut melaut karena tak ada biaya melanjutkan sekolah.

"Sudah setahun tidak melanjutkan sekolah. Lulus sampai SD saja. Sekarang ikut melaut. Sama teman yang satu itu, sampai lulus SD saja," ucap Alfian polos. (banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid/helriansyah/man hidayat)

Penulis: Herliansyah
Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help