Rupiah Melemah

Kondisi Rupiah 2018 Dibanding 1998 Sangat Jauh Berbeda, Khawatir Jangan Berlebihan

Pertemuan yang juga dihadiri Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) OJK Regional IX Kalimantan, M Nurdin Subandi.

Kondisi Rupiah 2018 Dibanding 1998 Sangat Jauh Berbeda, Khawatir Jangan Berlebihan
muhammad maulana
Kepala KPw Bank Indonesia (BI) Kalsel, Herawanto 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) gelar pertemuan dengan awak media mengenai pembahasan perekonomian Indonesia dan Kalsel di Cafetaria Lantai III Kantor BI Prov. Kalsel, Rabu (12/9/2018).

Pertemuan yang juga dihadiri Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) OJK Regional IX Kalimantan, M Nurdin Subandi.

Pada kegiatan yang bertema Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Resiliensi Terhadap Gejolak Eksternal ini dihadiri puluhan awak media.

Dijelaskan Kepala KPw BI Kalsel, Herawanto, kondisi Indonesia sekarang sangat jauh berbeda dengan kondisi krisis ekonomi pada 1998 silam.

Baca: Dipo Latief Minta Balikan, Nikita Mirzani Sebut Masih Cinta, Billy Syahputra Bilang Ini

Baca: Calon Istri Ahok, Bripda Puput Malah Kenalkan Pria yang Juga Polisi pada Ayahnya, Ternyata?

Baca: Link Live Streaming Japan Open 2018 Babak 16 Besar Jam 10.10 WIB - Marcus/Kevin vs Wahyu/Ade Main

Baca: Penerimaan CPNS Tanbu 2018 - Ada 201 Formasi, Tapi Tak Ada untuk Lulusan SLTA!

Herawanto mencontohkan kondisi ekonomi Indonesia tahun 1997 ke 1998 rupiah bergejolak dari level Rp 2.000 ke Rp 15.000, sedangkan 2017 kisaran Rp 13.500 ke 2018 Rp 15.000.

"Jadi secara persentase kondisi sekarang dengan krisis pada 1998 sudah sangat jauh berbeda," kata Herawanto.

Ia melanjutkan, dari tingkat depresiasi pada September 1997 ke 1998 rupiah terdepresiasi 254 persen, sedangkan september 2017 ke september 2018 rupiah terdepresiasi 11 persen.

"Sedangkan cadangan devisa tahun 1998 hanya sebesar 23,6 miliar USD, dibandingkan 2018 memiliki devisa 118,3 miliar USD," lanjutnya.

"Secara fundamental ekonomi sekarang lebih kuat berbeda dengan dulu, karena satu faktor kunci selain faktor-faktor lain yakni koordinasi yang erat antara BI, Pemerintah, Dan OJK," ucapnya.

Ia menambahkan, yang banyak beredar saat ini dari faktor sentimen yang harus dijaga.

"Baik dari otoritas dengan kebijakan-kebijakannya, agar masyarakat mempunyai pemahaman yang baik terkait ekonomi Indonesia sekarang," ujarnya.

Ia menghimbau agar tidak perlu khawatir secara berlebihan, karena menurutnya bila terlalu khawatir akan semakin memperlemah kondisi saat ini.

Ia menyebutkan salah satu alasan lembaga rating yang menyebutkan Indonesia masih layak invesment grade karena sejak krisis yang lalu Indonesia banyak belajar.

"Bukan hanya belajar tapi diwujudkan berbagai kebijakan dengan mengantisipasi dengana adanya krisis kedepan sehingga Indonesia dinilai sebagai negara yang siap," jelasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Maulana)

Penulis: M Maulana
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help