Home »

Kolom

» Tajuk

Tajuk

Rubella dan Pendekatan Persuasif

Dinkes Banjarbaru merilis 37 sampel dari 52 sampel darah yang dikirim dan diuji di Laboratorium di Surabaya positif

Rubella dan Pendekatan Persuasif
kompas tv
Ilustrasi Campak Rubella 

DINAS Kesehatan Kota Banjarbaru merilis 37 sampel dari 52 sampel darah yang dikirim dan diuji di Laboratorium di Surabaya, Jawa Timur positif mengandung virus rubella. Hasil uji laboratorium itu sekan menguatkan dugaan sebelumnya saat pertama ditemukan kasus serupa campak dan rubella di dua pondok pesantren di Banjarbaru.

Benar atau tidak kasus di dua ponpes di Banjarbaru adalah kasus campak dan rubella sempat jadi polemik di media sosial. Bahkan, koran Banjarmasin Post dan media daring banjarmasinpost.co.id sempat jadi sasaran komentar pedas dan dianggap menyebarkan kabar hoaks. Terutama oleh pihak-pihak yang tidak sependapat adanya program imunisasi campak dan rubella (MR).

Meskipun sejatinya info awal berasal dari Dinas Kesehatan Banjarbaru yang benar-benar valid, sehingga koran Banjarmasin Post dan banjarmasinpost.co.id tidaklah benar telah menyiarkan kabar hoaks.

Jika melihat fakta tersebut, maka perlu ada tidakan khusus dari Pemko Banjarbaru dan Pemkab Banjar, bahkan diperlukan pula campur tangan dari Pemprov Kalsel karena dikhawatirkan bisa jadi penyebarannya meluas. Apalagi, sebelum kasus di Banjarbaru, telah ada kasus campak dan rubella di Tabalong. Seperti disebutkan dr Rosihan Adhani, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi ULM, rentetan kejadian ini bisa berubah jadi kejadian luar biasa (KLB) campak dan rubella jika kian meluas.

Melihat kejadian ditemukannya wabah virus rubella di Banjarbaru, paling rentan terkena dampak penyebarannya adalah pondok pesantren dan sekolah yang berbasis asrama. Padahal, selama ini pondok pesantren dan sekolah berbasis agama seperti madrasah kebanyakan menolak untuk melaksanakan program imunisasi MR.

Penolakan ini jadi hambatan utama bagi Pemko Banjarbaru, Pemkab Banjar dan pemerintah kabupaten lainnya untuk melaksanakan program imunisasi campak dan rubella. Terbukti, di Banjarbaru baru sekitar 32 persen cakupan pelaksanaan imunisasi MR.

Sementara program lanjutan tidak lagi dilakukan di sekolah, melainkan peserta harus mendatangi puskesmas, sehingga rasanya sulit mengharapkan ada kesadaran sendiri orangtua untuk mengantar anaknya diberi imunisasi MR. Lantas apa yang harus dilakukan pemerintah kabupaten dan kota serta provinsi untuk menekan penyebaran lebih luas virus campak dan rubella? Pendekatan persuasif jadi pilihan utama, di tengah kontroversi halal dan haram kandungan dari vaksin MR.

Hanya dengan cara ini, tentu saja melibatkan MUI dan Kemenag maka diharapkan kesadaran untuk melakukan pencegahan dengan cara imunisasi bisa meningkat. Jangan cepat putus asa apalagi menyerah jika ada penolakan. Bukankah sudah jadi tugas aparatur negara untuk memberikan yang terbaik pada warga negara demi kemaslahatan. Jangan ada kamus putus asa apalagi menyerah.

Sembari menunggu keseriusan pemerintah untuk menghalalkan materi vaksin MR, hanya pendekatan persuasif kepada warga jadi cara utama untuk memperluas cakupan imunisasi MR. Sebab, selama persoalan halal atau haram materinya mengemuka karena sudah berada di ranah agama, maka hambatan untuk langkah antisipatif ini tidak akan hilang, bahkan cenderung resisten.Tapi, tidak ada yang tidak mungkin selama masih bisa berikhtiar. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help