Fikrah

Tahun Baru Islam

Menyambut tahun baru Masehi, semua orang menanti pukul 00.00 pisah-sambut akhir dan awal tahun

Tahun Baru Islam
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin

KITA telah berada di Tahun Baru Islam 1440 H. Ada yang mempertanyakan, mengapa sambutan terhadap tahun baru Islam tidak semeriah tahun baru Masehi? Menyambut tahun baru Masehi, semua orang menanti pukul 00.00 pisah-sambut akhir dan awal tahun, dibunyikan kelakson mobil dan dinyalakan kembang api, bergadang sampai pagi.

Tidak usah kecewa, umat Islam tidak disuruh seperti itu. Cukuplah umat diperingatkan lewat khotbah dan pengajian, akan bertambahnya bilangan umur dan makin mendekatnya jarak ke liang kubur, memadailah mengingatkan anak-anak dengan acara seperti Nite Carnival di Banjarmasin, arak-arakan onta di Martapura dan berselawat di berbagai ibu-kota kabupaten.

Lebih bermakna lagi umat Islam membaca doa akhir tahun sesudah salat Ashar 29 Dzulhijah 1439 H dan membaca doa awal tahun sesudah salat Magrib 1 Muharram 1440 Hijriyah. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi panggilan surah adz-Dzariyaat ayat 55, wa dzakkir, fa-innadz-dzikra tanfa’ul-mu’minin (dan tetaplah kamu memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman); karena ada pula yang mengklaim sebagai bid’ah.

Sebagian besar umat Islam, lebih-lebih anak muda tidak begitu akrab penanggalan tahun Hijriah; Bila ditanya tanggal, bulan dan tahun berapa dalam tahun Masehi dapat menjawabnya cepat dan tepat, tetapi apabila ditanya tanggal, bulan dan tahun berapa dalam tahun Hijriah, banyak yang tidak dapat menjawabnya.

Penulis sendiri menyebut-nyebut usia 70 tahun pada 10 November 2017 lalu, nanti mencapai 71 tahun pada 10 November 2018, padahal sudah mencapai 73 tahun menurut tahun Hijriah pada 27 Dzulhijjah 1439 H, penulis tersadar lewat ucapat selamat yang dikirim seorang keponakan dari Batibati Tanahlaut.

Penulis pernah memesan tiket pesawat di satu travel, petugasnya seorang anak gadis yang bingung, karena saya minta keberangkatan hari Ahad. Ketika saya katakan hari Minggu, barulah dia bisa mencatatnya. Banyak hal umat Islam ditentukan oleh penanggalan Hijriah, seperti kelahiran karena usia balig seorang anak 15 tahun dihitung menurut tahun Hijriah, selebihnya pelaksanaan zakat harta dan perdagangan, haul wafatnya seseorang, puasa dan haji menggunakan tahun Hijriah.

Ada perbedaan mendasar antara penanggalan Masehi dengan Hijriah. Tahun Masehi mengacu kepada perjalanan bumi mengitari matahari, disebut Solar Year atau Sanah Syamsiyyah, hari setahunnya berjumlah 364/365 hari, perubahan tanggal pada pukul 00.00. Sedangkan tahun Hijriah mengacu kepada perjalanan bulan mengitari bumi, disebut Lunar Year atau Sanah Qamariyah, jumlah hari setahunnya 354/355 hari, berbeda 11 hari, perubahan tanggal dengan tenggelamnya matahari (Magrib).

Perhitungan tahun Masehi dimulai dari kelahiran Nabi Isa AS, karenanya disebut tahun Miladi (kelahiran), disebut Masehi karena gelar beliau adalah al-Masih. Sedang tahun Hijriah perhitungan dimulai dari peristiwa hijrah (pindah)-nya Nabi SAW dari Makkah ke Madinah.

Antara kelahiran dan peristiwa sesudah lahir, keduanya penting dicatat. Tetapi, yang abadi adalah peristiwa yang dilakoni seseorang sesudah lahir. Ada seseorang berusia 70 tahun, setelah meninggal riwayat hidupnya hanya beberapa alenia, yaitu lahir, kawin dan meninggal tanggal sekian, mengapa? Karena tidak ada aktivitasnya yang bisa dicatat.

Ada seseorang yang usianya 25 tahun, seperti Hasanuddin Madjedi (Pahlawan Ampera), sejarah hidupnya beratus halaman buku bisa ditulis, mengapa? Karena aktivitasnya. Aktivitas dalam agama disebut amal. Amal yang abadi adalah amal baik (saleh). Itulah ijtihadnya Umar bin Khattab RA dan para sahabat memulai penanggalan islami dari peristiwa yang dilakoni Nabi SAW, yaitu hijrah, bukan dari kelahiran beliau. Selamat Tahun Baru Islam 1440 H. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help