Fikrah

Bentuk Negaraku

Ia adalah negara kepulauan terbesar di dunia mencapai 17.504 pulau, penduduknya mencapai 270.054.853 juta jiwa

Bentuk Negaraku
blogspot
KH Husin Naparin Lc MA

OLEH: KH HUSIN NAPARIN

NEGARAKU adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia disingkat menjadi NKRI. Lebih umum disebut Indonesia, disebut pula Nusantara; Ia adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Ia adalah negara kepulauan terbesar di dunia mencapai 17.504 pulau, penduduknya mencapai 270.054.853 juta jiwa (2018), terbesar keempat di dunia dan berpenduduk muslim terbesar di dunia, lebih dari 230 juta.

Detailnya Islam 87,18 persen, Kristen 6,96 persen, Katolik, 2,91 persen, Hindu 1,69 persen, Budha 0,72 persen, Khong Hu Cu 0,05 persen (sensus 2010). Catatan Din Syamsudin 2014 pada tahun 80-an, penduduk muslim di Indonesia lebih dari 90 persen, tahun 2000 turun menjadi 88,2 persen, dan tahun 2010 turun menjadi 85,1 persen.

Segelintir umat Islam di negara ini hidup merasa sangat tidak nyaman, karena menurut mereka hidup di bawah pemerintahan yang tidak islami; seyogyanya umat Islam yang mayoritas di negeri ini membentuk pemerintahan Islami yaitu khilafah. Bahkan di antara mereka secara radikal berupaya membentuknya, seperti yang diberitakan baru-baru ini di Kotabaru, Kalsel (BPost 31/7/2018).

Lewat YouTube, penulis menyaksikan tablig akbarnya Tuan Guru Bajang, Muhammad Zainul Majedi, al-Hafizh, Gubernur NTB di Masjid Baitul-Ilmi, Institute Informatika & Bisnis Darmawijaya, Lampung; dengan tema Generasi Qurani Penyelamat Bangsa (22 Maret 2018). Dalam dialog, seorang penanya mempertanyakan hal ini.

Inti jawaban beliau antara lain, bahwa memang pemerintahan dalam Islam harus ada, untuk; pertama menjaga agama (harasatuddin); kedua mengatur dunia (siyasatuddun-ya). Bila demikian, kita kembali ke masa 15 abad yang silam; adakah atau bagaimanakah petunjuk Alquran dan Hadits Nabi SAW tentang hal ini?

Bila dicermati, ternyata Alquran dan Hadits tidak mengharuskan suatu bentuk tertentu, tetapi menunjukkan nilai, antara lain yaitu dalam memerintah Allah menyuruh amanah, menegakkan hukum dengan adil (QS an–Nisa 58), memerintahkan berbuat kebajikan, mencegah kemunkaran.

Dalam sejarah Islam, memang pemerintahan islami dalam bentuk kekhalifahan pernah ada dan paling lama di antara bentuk-bentuk yang lain, pimpinannya disebut khalifah. Bentuk lainnya, ada kesultanan, pimpinannya disebut sultan; ada pula imarah, pimpinannya dipanggil amir, ada lagi mamlakah (kerajaan), pimpinannya adalah malik (raja).

Nah, negara kita ini berbentuk republik, bahasa Arabnya jumhuriah, pimpinannya adalah rais. Dengan bentuk republik dimana kita sekarang berada, terpeliharakah agama? Teraturkah kehidupan dunia kita? Fakta yang ada, kita bisa hidup ber-Islam di negara ini. Pelaksanaan hukum-hukum Islam tergantung kepada umat Islam sendiri, kendati ada hukum Islam yang belum bisa kita laksanakan.
Beliau menambahkan, Pancasila sebagai dasar negara kita, tidak ada yang bertentangan dengan Alquran.

Penulis merasa lega, keterangan ini meyakinkan hati, menerima Pancasila sebagai dasar negara, tidaklah berarti telah keluar dari Islam. Pihak manapun tidak perlu khawatir, bila umat Islam mengamalkan keislamannya dengan benar, Pancasila akan terusik. Yusril Ihza Mahendra, yang gencar menyuarakan tegaknya Syari’at Islam, ketika ditanya tentang khilafah; beliau menjawab, “itu idealnya, sekarang ini sajalah dulu, jika semua umat Islam mau mengamalkan ajaran Islam, niscaya Syari’at Islam tegak.” (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved