Tajuk

Argumen Pembangunan

Sebenarnya, ada yang jauh lebih menarik dari kontestasi presiden hanya sekadar soal nomor urut. Apa itu? Soal dukung-mendukung

Argumen Pembangunan
warta kota
Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ketika pencabutan nomor urut Capres dan Cawapres Pemilu 2019 di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/9). Jokow-Ma'aruf Amin mendapat No 01, sementara Prabowo-Sandi No 02. 

PENGHUJUNG pekan tadi, dua kandidat calon presiden dan wakil presiden, masing-masing sudah memiliki nomor kontestasi. Pasangan Jokowi-Maruf Amin mendapat nomor urut 01 dan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno mendapat nomor urut 02.

Sebenarnya, ada yang jauh lebih menarik dari kontestasi presiden hanya sekadar soal nomor urut. Apa itu? Soal dukung-mendukung. Khususnya dukungan dari para kepala daerah terhadap pasangan calon presiden. Dan, kita semua tahu, banyak kepala daerah, termasuk di Banua (Kalimantan Selatan) menyuarakan dukungan untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Hanya sedikit yang mengalihkan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Hampir semua kepala daerah yang mendukung berdalih bahwa apa yang kini dialami wilayah yang dipimpinnya sudah jauh lebih maju dari sebelumnya. Dan, memang, itulah alasan normatif para kepala daerah yang bagi kita yang awam bisa memakluminya.

Tapi, harus jujur pula kita katakan bahwa tidak semua fakta-fakta normatif di daerah memberikan gambaran yang sebenarnya. Bagaimanapun realitasnya bahwa bentuk-bentuk fakta (pembangunan), masih bertumpu di luar wilayah kita (Banua), alias Jawa dan Sumatera. Contoh paling nyata, pembangunan infrastruktur yang selama ini selalu menjadi argumen pemerintah yang seolah menjadi skala prioritas. Kita bisa tengok pembangunan jalan-jalan tol di berbagai belahan di Pulau Jawa. Padahal, kita semua tahu, hampir semua akses jalan di Pulau Jawa sudah terkoneksi dengan baik.

Kita juga melihat keanehan proyek pembangunan rel kereta api cepat supermodern Jakarta-Bandung. Padahal, koneksi tranportasi kereta api dua wilayah itu sudah terhubung. Dan, lagi-lagi, proyek itu pun menggunakan dana utangan dari luar negeri. Proyek yang sama juga di Palembang, proyek kereta apimodern dibangun hanya sekadar alat pamer untuk sebuah event olahraga internasional yang baru kemarin berakhir. Padahal, akan jauh labih baik kalau mengkoneksikan jalur kereta api di Sumatera mulai Aceh hingga Lampung –yang tentu bisa bermanfaat bagi semua rakyat di sana.

Lantas bagaimana dengan Banua (Kalsel)? Proyek kereta api trans Kalimantan yang blueprint-nya sudah ada sejak tahun 1990-an tidak pernah terealisasi, hingga kini. Demikian pula megaproyek pembangunan jembatan di pesisir –Batulicin-Kotabaru– yang tidak jelas kabar beritanya.

Jadi, kalau bicara soal keberhasilan pembangunan infrastruktur pemerintah, tidak salah kita di daerah bertanya apakah kita di sini ikut merasakan keberhasilan tersebut? Apakah kita di sini (Banua), bukan bagian dari negeri ini yang seharusnya juga merasakan manfaat dari kue pembangunan!

Karenanya kita harus jujur bahwa argumen-argumen normatif dari jargon pembangunan tidak serta merta menelannya mentan-mentah begitu saja. Dan, kini tinggal rakyat pemilih sebagai penikmat dari sebuah proses pembangunan apa benar-benar sudah dirasakan secara lahiriah dan rohaniah. April 2019 ditunggu pilihan terbaik untuk negeri ini tanpa lagi harus melihat Jawa dan luar Jawa! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help