Mereka Bicara

Political Marketing

GENDERANG tabuh kampanye untuk pileg 2019 dan pilpres 2019 sudah dimulai pada tanggal 23 September 2018 dan masa kampanye

Political Marketing
warta kota
Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ketika pencabutan nomor urut Capres dan Cawapres Pemilu 2019 di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/9). Jokow-Ma'aruf Amin mendapat No 01, sementara Prabowo-Sandi No 02. 

Oleh: ARIEF BUDIMAN SE MMKTG PHD, Pengajar Program Magister Manajemen ULM

(Catatan Strategi Pemilu 2019)
GENDERANG tabuh kampanye untuk pileg 2019 dan pilpres 2019 sudah dimulai pada tanggal 23 September 2018 dan masa kampanye ini akan berakhir pada 13 April 2019. Oleh karena itu sudah kita lihat dan temukan foto atau spanduk kecil para caleg di seputaran wilayah kita yang masih malu-malu memasangnya karena memang masih pada tahap awal dan mesinnya belum panas. Mungkin para caleg masih berpikir bahwa waktu tersedia masih panjang sehingga take it easy.

Pemilu yang Terumit
Pemilu tahun 2019 adalah konon kabarnya akan merupakan pemilu yang terumit selama sejarah pemilu di Indonesia bahkan di dunia, sehingga pemilu kali ini akan mendapat perhatian yang sangat besar. Kenapa hal ini menjadi sangat rumit? Pada pemilu tahun 2019 nanti, pemilih akan memilih lima tingkatan yaitu DPR nasional, tingkat 1, tingkat 2, DPD dan yang terakhir adalah presiden. Pemilih akan mencobos lima kertas suara. Tentunya hal ini menjadi akan sangat rumit apabila seorang pemilih tidak memiliki pilihan yang firm terhadap caleg dan calon presiden yang sudah ada di benak mereka masing-masing sebelum menuju ke bilik suara.
Bagaimana pemilih bisa mempunyai pilihan terhadap caleg dan calon presiden sebelum masuk ke bilik suara? Hal ini adalah menjadi tugas dan misi yang diemban oleh para celeg agar bisa menyakinkan para pemilih bahwa dialah yang layak untuk duduk di kursi legislatif, DPD bahkan presiden sekalipun.

Strategi Politik
Ada beberapa strategi yang harus dilakukan oleh para caleg untuk memenangi persaingan ini. Salah satunya adalah dengan mengimplementasikan political marketing. O’Cass (1996) mendefinisikan political marketing sebagai sebuah analisis perencanaan, implementasi dan pengendalian program politik dan pemilu yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan memelihara hubungan pertukaran yang menguntungkan antara partai dan pemilih untuk tujuan yang dicapai oleh pemasar politik.
Political Marketing sudah menjadi tren pada pelaksanaan pemilu terutama untuk kepala daerah misalnya survei elektabilitas. Memang political marketing bukan hanya urusan survei saja tetapi masih banyak lagi aktifitas yang lain seperti diutarakan oleh O’Cass tersebut. Para caleg sudah harus mulai membuat perencanaan aktifitas yang akan dilakukan selama kampanye baik itu dari sisi strategi dan perencanaan pendanaan yang harus disiapkan oleh mereka. Misalnya saja perencanaan terhadap siapa yang akan menjadi segmen pendulang suara nanti. Apa media yang paling dominan akan digunakan untuk berkampanye nanti? Apakah spanduk, kartu nama, kalender masih menjadi media yang ampuh untuk membuat para pemilih mencoblos mereka nanti?

Segmen Milenial
Seperti kita ketahui saat ini, kata-kata segmen milenial menjadi kata yang paling sering didengar dan menjadi segmen yang besar dalam pemilu tahun 2019 nanti. Generasi yang sangat akrab dengan gadget dan teknologi ini diperkirakan sekitar 85 juta pemilih atau sekitar 40 persen dari total 195 juta pemilih. Data ini juga akan sama dengan pemilih yang ada di banua sehingga para caleg sudah saatnya menaruh perhatian serius kepada segment market ini.
Para generasi milenial atau yang disebut juga Generasi Y ini mempunyai beberapa ciri khas perilaku yang sudah sepantasnya diketahui oleh para caleg agar mereka bisa merebut suara kaum milenial. Misalnya adalah penggunaan sosial media yang akrab digunaan oleh para milenial. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para caleg yang sudah berusia sepuh dan sudah beberapa periode duduk di lembaga legislatif dan mereka ini dikategorikan sebagai generasi X atau bahkan Baby Boomer. Perbedaan generasi menjadikan perbedaan komunikasi yang besar dan harus disiasati bagi mereka yang masih ingin tetap duduk di lembaga tersebut.

Menyesuaikan Perubahan
Masih ingat di benak kita apabila masa kampanye maka yang jadi korban pertama adalah pohon, tiang listrik atau telepon yang sering dipaku atau ditempeli dengan atribut-atribut kampanye atau alat peraga kampanye sehingga sudah jamak kita lihat foto-foto caleg mejeng di situ. Apakah efektifitas spanduk atau phamflet/ poster masih kuat untuk menjangkau dan merebut hati para pemilih saat ini ketika pemilih sudah semakin kritis dan exposure mereka terhadap alat peraga kampanye tersebut sudah semakin berkurang. Ini merupakan PR bagi para caleg karena zaman sudah berubah sehingga perubahan ini akan berdampak terhadap strategi kampanye nanti.
Waktu masih tersedia dan sudah saatnya para caleg untuk mempersiapkan rencana political marketing yang mereka jalankan dalam rangka memuluskan jalan untuk mencapai tujuan yaitu duduk di lembaga legislatif. Perencanaan yang bagus dan matang serta membuat strategi yang jitu dapat menghemat pengeluaran atau alokasi dana yang diperlukan, karena dengan strategi yang baik bisa menghindarkan pemborosan-pemborosan dalam hal menjalankan aktifitas berkampanye nanti. Selamat bertanding bagi para caleg banua! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help