B Focus Banua Anam

Bidan ini Mengabdikan Dirinya di Desa, ini Hal-hal yang Bikin Takut

Sumiati Amd Keb, Bidan di Puskesmas Sapala mengatakan, untuk memberi pengobatan pertama kepada warga dilakukan bidan desa

Bidan ini Mengabdikan Dirinya di Desa, ini Hal-hal yang Bikin Takut
BPost Cetak
bpost

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Sumiati Amd Keb, Bidan di Puskesmas Sapala mengatakan, untuk memberi pengobatan pertama kepada warga dilakukan bidan desa yang memang telah berdomisili di desa masing-masing.

Sebab, bidan desa berada di desa masing masing, warga masih bisa mendatangi bidan dengan berjalan kaki atau naik perahu.

Puskesmas Sapala mendatangi warga yang biasanya berkumpul di rumah kepala desa atau rumah bidan sebulan sekali, dengan memberikan pengobatan gratis bagi warga yang memiliki BPJS dan KSA.

Baca: Mendaftar CPNS 2018 di Link Sscn.bkn.go.id Pakai HP, BKN Ingatkan Pelamar Pendaftaran CPNS 2018

Sumiati mengatakan, senang bisa memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada warga.

Walaupun memerlukan perjuangan, karena untuk mencapai tiap desa harus menggunakan speedboat atau perahu motor bermesin.

“Kadang saat turun menuju dermaga sangat sulit, karena dermaga yang rusak atau jembatan yang sempit sangat takut saat melewatinya,” ujarnya.

Baca: Formasi Kemenag di CPNS 2018, Paling Banyak Guru yang Dicari, Detailnya Klik Link Berikut

Perahu motor yang digunakan tak jarang mogok di tengah perjalanan.
Saat mesin mati, perahu terombang-ambing di tengah rawa yang juga menguji adrenalin.

“Kami jarang menggunakan pelampung karena jumlahnya juga tidak cukup, perbanyak berdoa saat mesin mati,” ucapnya sembari tersenyum mengingat peristiwa mati mesin motor.

Perjuangan menuju rumah warga juga sangat terasa saat musim hujan.

Sebab, perairan lahan rawa dipenuhi dengan banyak eceng gondok.

Baca: Ada yang Ingin Ruben Onsu Meninggal Kata Cenayang Ini Gara-gara Postingan Pengalaman Mistis

Tanaman air yang memiliki akar panjang ini biasa terlilit di baling-baling mesin perahu motor yang mengakibatkan mesin mati.

“Jika saat musim eceng gondok, perjalanan menuju desa menjadi lebih lama, motoris harus membersihkan baling-baling agar bisa dihidupkan kembali,” ujarnya.

Sedangkan saat musim kemarau, air surut sehingga posisi dermaga lebih tinggi dari air yang membuat para petugas kesehatan wanita khususnya harus naik ke dermaga cukup tinggi.

“Jika tidak bisa menjaga keseimbangan bisa terjatuh, apalagi sambil membawa barang berupa obat-obatan,” katanya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved