Tajuk

Lunturnya Budaya Santun

Kekerasan yang memakan korban pada gempita liga bola Indonesia sudah sering terjadi. Data PSSI, sejak 2005 sebanyak 95 korban

Lunturnya Budaya Santun
TWITTER/PERSIJA JAKARTA
Ucapan bela sungkawa Persija Jakarta untuk suporter The Jak Mania yang tewas, Haringga Sirla. 

PERSATUAN Sepakbola Indonesia (PSSI) akhirnya mengambil keputusan tegas dengan menghentikan kompetisi Liga 1 2018 Indonesia terkait tragedi tewasnya seorang pendukung Jack Mania oleh oknum pendukung Persib Bandung, menjelang tarung dua klub rivalitas itu, di Stadion GBLA Bandung, Minggu (23/9) lalu.

Kekerasan yang memakan korban pada gempita liga bola Indonesia sudah sering terjadi. Data PSSI, sejak 2005 sebanyak 95 korban jiwa dalam kancah sepakbola Indonesia. Penyebab melayangnya nyawa manusia ini, hanya gara-gara persaingan antar supporter sepakbola.

Tragedi kemanusiaan dalam sepakbola, hanyalah bagian dari potret kekerasan yang belakangan eskalasinya terus meningkat di Indonesia. Perbedaan dukungan atas klub sepakbola maupun cabang olahraga lain, dengan mudah menyulut kekerasan, hingga menimbulkan korban jiwa.

Tak hanya dalam dunia olahraga, perbedaan dalam dukungan politik itu membuat bangsa mudah terpecah belah. Media sosial pun dimanfaatkan sebagai tempat untuk saling hujat, caci maki dan menghina satu sama lain.

Kultur yang selalu didengungkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang santun, ramah dan saling menghargai seolah luntur tergerus perilaku egois dan fanatisme berlebihan.

Laju perkembangan internet, media sosial, diiringi kecanggihan peralatan komunikasi pintar (smart phone) dalam satu dekade terakhir harus diakui membawa perubahan dan dampak yang kompleks berpotensi melunturkan nilai-nilai luhur karakter bangsa ini.

Kebebasan berekpresi di dunia maya medsos menggerus budaya santun dan saling menghargai . Pengguna dunia maya pun menjadikan media sosial, bak rimba raya tak berhukum, tanpa moral dan etika, di mana setiap orang bebas melakukan atau tepatnya mengatakan apa saja kepada orang lain.

Proses hukum berbagai kasus penghinaan di media sosial melalui perangkat aturan yang keras produk pemerintah sepertinya tak mampu memerangi persoalan itu. Orang tetap saja beringas di media sosial.
Komitmen bahwa bangsa ini terlahir karena dirajut atas dasar perbedaan, makin luntur. Akibat beda pandangan politik, termasuk para elite, kita cenderung abai akan kewajiban merawat bangsa ini dalam sebuah ikatan besar yang telah disepakati.

Berbagai insiden yang terjadi di Tanah Air termasuk pengeroyokan pendukung Persija, oleh pendukung Persib, sedikit banyak ada efek dari media sosial. Perang yang terjadi di media sosial akan mudah tersulut menjadi perang terbuka ketika kedua kelompok bertemu fisik secara langsung.

Tentu persoalan seperti ini tak bisa dibiarkan terus terjadi. Kita harus secepatnya mengembalikan budaya sopan santun yang telah dirajut nenek moyang sejak dulu. Perlu gerakan dan kemauan bersama menjadikan media sosial sebagai tempat bersilaturahmi berbagi ilmu pengetahuan, bukan tempat saling hujat dan caci maki. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help