Fikrah

Memberangkatkan dan Menyambut Jemaah Haji

Di bawah tahun 60-an, hanya ada sepasang suami-istri yang naik haji, sehari-hari dipanggil Baslit (keduanya tidak berketurunan

Memberangkatkan dan Menyambut Jemaah Haji
Net
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin

PENDUDUK desa kelahiran penulis tergolong berpenghasilan minim, kendati bernama Hujanmas; Berlokasi di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan. Mata pencaharian mereka menurih gatah (menyadap karet) dan bahuma (bersawah).

Di bawah tahun 60-an, hanya ada sepasang suami-istri yang naik haji, sehari-hari dipanggil Baslit (keduanya tidak berketurunan dan kini sudah meninggal). Kelebihan sang suami pandai batukang (membangun rumah) dan keduanya hidup sangat hemat. Setelah sekian lama menabung, beliau mendaftar haji dan dalam undian mendapat kotum haji.

Suatu pagi yang telah dijadwalkan, beliau berdua turun dari rumah diantar oleh warga ke masjid yang berjarak kira-kira tiga ratus meter. Usai salat safar, keduanya ke luar dan bersalaman dengan para pengantar di halaman masjid. Suasana haru terjadi dan bertangis-tangisan.

Berangkatlah taksi yang membawa keduanya menuju Banjarmasin diantar oleh petugas haji dari kabupaten, bekal bawaan diangkut dengan truk, sebuah peti besar disebut sahara. Entah berapa lama di perjalanan haji waktu itu, naik kapal laut ke Surabaya menuju Jeddah, singgah di Semarang, Betawi dan Padang, kata orang.

Akhirnya, suatu hari datanglah berita Haji Baslit dan istrinya sudah di banua. Rumah beliau dibersihkan, dipasang gafura (lawang sekiping), kain putih dibentang dari gafura sampai ke pintu rumah. Berhari-hari penduduk desa menunggu. Sore harinya datanglah sang haji suami istri, keduanya disambut di halaman masjid desa, di mana berapa bulan yang lalu keduanya diberangkatkan oleh warga desa.

Keduanya masuk masjid, salat qudum minassafar dan sujud syukur. Keduanya diarak penduduk desa menuju rumah. Sang suami memakai gamis dan serban, di kepalanya ada patah kangkung, pakaian khas Arab; dan sang istri pakai rok panjang ditutup abaya hitam, kepalanya dililit bolang dan kerudung bederang mawar bermanik-manik, mukanya tertutup cadar.

Sampai di rumah keduanya duduk di tawing halat, dan berdoa. Para perempuan berdesak-desak mengelilingi sang hajjah, menanti dibukanya cadar. Cadar pun dibuka, sehingga mereka berebut berpelukan.

Baru-baru ini, alangkah pula meriahnya, warga Balangan yang datang haji tahun ini disambut oleh bupatinya dan warga Balangan di masjid Al-Akbar, Paringin. (BPost/UmmaH Jumat, 21/92018, hal 24).

Kabupaten/kota lainnya di Kalsel melakukan hal yang sama di daerah masing-masing. Tradisi memberangkatkan dan menyambut jemaah haji seperti ini, perlu dilestarikan untuk efesiensi dana dan waktu.

Menarik pula, harian BPost 31/8/2018 hal 1, menayangkan potret seorang jemaah haji kloter 1 asal embarkasi Banjarmasin Kalsel yang turun dari tangga pesawat langsung sujud syukur di tanah setibanya di Bandara Syamsudin Noor; mungkin ia lakukan karena saking bersyukurnya.

Imam Nawawi pernah menulis, bila seseorang yang berhaji tiba di kampung halamannya, hendaklah ia masuk masjid melaksanakan salat sunat ruju’ (qudum minassafar). Dari masjid ia ke rumahnya memperbanyak istigfar dan taubat, kemudian ia masuk rumahnya dan melaksanakan pula salat dua rakaat dan sujud syukur serta berdoa memohon ampun dan keampunan bagi keluarganya, jiran tetangganya dan umat beriman. (Al-Idhah hal 475).

Selamat datang para haji dan hajjah, semoga mendapat haji mabrur. Kemabruran haji ditandai meningkatnya dzikrullah; dzikrulah yang direalisasikan lewat memberi makan (ith’amuth-tha’am) sebagai potret kedermawanan dan lembutnya perkataan (layyinul-kalam) sebagai gambaran hubungan yang santun kepada sesama manusia. (Fiqh Sunnah, Said Sabiq I, hal.527). Walahu a’lam. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help