Esai

Esai Zulfaisal Putera: Jatuh Tujuh Kali, Bangun Delapan Kali

Antara lain foto beberapa panggung kegiatan di sepanjang Teluk Palu. Salah satunya Panggung Tionghoa, tempat nanti Madihin ditampilkan.

Esai Zulfaisal Putera: Jatuh Tujuh Kali, Bangun Delapan Kali
istimewa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ridwan Baharu, aku tak kenal persis siapa beliau. Yang aku tahu dia adalah salah satu orang yang ditugasi menjadi narahubung kegiatan Festival Pesona Palu Nomoni 3 Tahun 2018.

Ya, sejak surat dari Walikota Palu yang berisi undangan menghadiri kegiatan tersebut hadir di tempat tugasku, dengan Pak Ridwan inilah aku mengomunikasikan rencana kehadiran di acara tersebut.

Festival Pesona Palu yang akan dilaksanakan 28 September s.d. 3 Oktober itu adalah kegiatan tahunan kota Palu berupa pertunjukkan seni dan budaya tradisional berskala internasional.

Baca: Perbandingan Dahsyatnya Tsunami Aceh dengan Tsunami Palu, Begini Kisah Tsunami di Serambi Mekkah

Banjarmasin melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ditawarkan untuk menampilkan seni tradisi tutur Madihin. Katanya, ini permintaan Kerukunan Bubuhan Banjar di Sulawesi Tengah.

Sejak memastikan bakal membawa Pemadihinan Anang Syahrani itulah, Pak Ridwan sering mengirimkan info melalui WA. Seperti hari Selasa dan Rabu (25 dan 26 September 2018) tadi, dia mengirimkan banyak foto.

Antara lain foto beberapa panggung kegiatan yang dibangun di beberapa titik di sepanjang Teluk Palu. Salah satunya Panggung Tionghoa, tempat nanti Madihin ditampilkan.

Jumat malam (28/9), melalui televisi, Palu dan Donggala diluluhlantakkan gempa 7,4 SR, pukul 17.02.44. Gempa juga mengakibatkan gelombang tsunami yang meratakan kehidupan sepanjang pantai dan sekitarnya.

Saya lihat, banyak besi rangka panggung patah dan bergeletakkan di sepanjang pantai. Saya langsung kontak Pak Ridwan. Takbisa. Pada dinding WA-nya terakhir aktif pukul 16.41.

Saya memang belum berangkat ke Palu. Namun, tiket sudah dipesan untuk tanggal 1 Oktober karena Madihin rencananya ditampilkan tanggal 2 malam.

Di balik rasa syukur karena terhindar dari musibah itu, hati kecil saya tetap menangis. Tidak hanya teringat Pak Ridwan yang takjelas nasibnya sampai esai ini ditulis, tetapi juga saudara-saudara kita di sana yang pasti sangat menderita.

Inilah penggalan esai Zulfaisal Putera berjudul Jatuh Tujuh Kali, Bangun Delapan Kali. Selengkapnya baca di Banjarmasin Post edisi, Minggu (30/09/2018).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help