Jendela

Takdir dan Gempa

Bencana ini terasa lebih pedih karena baru seminggu sebelumnya, saya dan ribuan orang lainnya datang ke IAIN Palu untuk menghadiri AICIS

Takdir dan Gempa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - JUMAT, 28 September 2018. Gempa berkekuatan M 7,4 telah mengguncang Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pukul 18.02 Wita, disusul tsunami dengan ketinggian air hingga 3 meter lebih. Sampai Ahad kemarin, telah tercatat 384 orang korban jiwa, dan 540 orang terluka. Gedung-gedung ambruk, jalanan terbelah dan jembatan terputus. Listrik padam, dan telekomunikasi macet.

Bagi saya, bencana ini terasa lebih pedih karena baru seminggu sebelumnya, saya dan ribuan orang lainnya dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara datang ke IAIN Palu untuk menghadiri Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS). Melihat foto gedung-gedung IAIN Palu yang porak poranda akibat gempuran gempa-tsunami, saya seolah tersentak dari mimpi, kaget berbaur duka.

Apakah ini takdir? Ya. Takdir, dari kata Arab taqdîr, adalah bentukan dari kata qadar. Kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kadar’ dan ‘sekadar’ yang artinya ukuran atau seukuran. Taqdîr artinya menentukan ukuran dan batasan. Dalam Alquran, taqdîr dikaitkan dengan hukum alam. Misalnya “Dan matahari beredar pada jalurnya. Itulah takdir Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Tahu (QS 36:38).

Dengan demikian, takdir adalah ukuran, batasan atau ketentuan Tuhan terhadap alam semesta yang secara singkatnya disebut hukum alam, yang mencakup hubungan sebab-akibat dan keterkaitan segala unsur yang membentuknya. Karena itu, percaya pada takdir berarti percaya pada hukum alam sebagai ciptaan Tuhan, sedangkan bagi kaum ateis atau agnostik, hukum alam ada dengan sendirinya.

Alam dapat dikaji dan dipelajari. Kajian tersebut melahirkan ilmu (sains). Gempa dan tsunami adalah gejala-gejala alam yang dapat dikaji, yang melahirkan para pakar yang sebagian kini bekerja di Badan Meterologi dan Geofisika (BMKG). Ilmu berusaha menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan gejala-gejala alam. Gempa dan tsunami bisa dijelaskan, diramalkan dan dalam batas tertentu, dikendalikan.

Ungkapan ‘dalam batas tertentu’ di atas sangat erat hubungannya dengan taqdîr. Setiap yang terukur pasti terbatas. Ada gejala-gejala alam yang masih bisa dikendalikan manusia, ada yang tidak. Gempa dan tsunami, hingga kini, belum bisa dikendalikan manusia, tetapi dampak-dampaknya dapat diantisipasi. Misalnya, kita bisa membuat bangunan tahan gempa dan membuat sistem peringatan dini tsunami.

Menurut laporan Kompas (30-09-‘18), daerah Palu dan sekitarnya sejak lama sudah diketahui oleh para ilmuwan sebagai rentan gempa dan tsunami. Berdasarkan data yang dihimpun dari tahun 1820 hingga 2018, telah terjadi 19 kali tsunami di daerah ini. Ironisnya, survei Kompas pada 2011-2012 menunjukkan, mayoritas warga Kota Palu tidak mengetahui ancaman tersebut, dan tidak bersiap untuk itu.

Tentu saja, laporan Kompas di atas bukan bermaksud menyalahkan korban (blaming the victims). Tugas melindungi ‘seluruh rakyat Indonesia’ adalah tugas negara. Negara kita masih kurang serius dalam upaya mencegah bahaya-bahaya akibat gempa dan tsunami. Alih-alih mengantisipasi yang akan terjadi, kita sepertinya terus-menerus ‘kaget’ dengan bencana-bencana itu, baru kemudian membantu para korban.

Sikap kita itu belum sepenuhnya sejalan dengan iman pada takdir. Tugas manusia bukan saja menerima hukum alam, tetapi juga mempelajarinya untuk kemaslahatan bersama. Memang harus diakui bahwa pengetahuan dan kekuatan manusia itu terbatas. Ini juga takdir. Tetapi dalam keterbatasan itu, manusia punya ruang untuk memilih dan bertindak. Inilah yang disebut ikhtiyâr, menentukan pilihan/keputusan.

Alhasil, takdir meletakkan manusia di antara kekuatan dan kelemahan, pengetahuan dan kebodohan. Kekuatan dan pengetahuan mencegah manusia dari putus asa, sedangkan kelemahan dan kebodohan mencegah manusia dari sombong bertepuk dada. Tugas mendesak saat ini adalah menolong para korban. Setelah itu, kita harus mengantisipasi dan menyiapkan diri menghadapi bencana serupa. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help