Fikrah

Mengapa Negeriku Terjadi Bencana

Data sampai Rabu (3/10/2018) sebanyak 1.407 jiwa tewas, 2.549 luka berat, 70.821 orang mengungsi dan 65.733 buah rumah rusak.

Mengapa Negeriku Terjadi Bencana
Airul Syahrif
KH Husin Nafarin MA 

OLEH: KH HUSIN NAPARIN

BELUM lagi kering air mata menangisi bencana gempa di Lombok, apalagi memulihkan dan merehabilitasinya, datang lagi gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, berkekuatan 7,7 SR (Jumat 28 September 2018).

Data sampai Rabu (3/10/2018) sebanyak 1.407 jiwa tewas, 2.549 luka berat, 70.821 orang mengungsi dan 65.733 buah rumah rusak. Korban terus bertambah, yang terkubur belum diketahui jumlahnya secara pasti. Dua perumahan di Sesar Palu Koro, yaitu perumahan Balaroa dan perumahan Patobo hilang bak ditelan bumi.

Perumahan Balaroa yang terletak di lereng kawasan bukit, seluas kira-kira 10 hektar, di situ ada 1.747 unit rumah amblas 5 sampai 20 meter ke bawah tanah. Tercatat 900 KK dengan ribuan jiwa tinggal di situ, entah bagaimana nasib mereka. Adapun di perumahan Patobo tercatat 744 unit rumah, semuanya tertimbun lumpur.

Alangkah mirisnya hati, membaca ungkapan berita bahwa warga di kawasan musibah gempa Palu yang selamat menjarah toko dan supermarket. Hal ini terjadi karena keterpaksaan untuk mempertahankan hidup. Kalau yang diambil bahan makanan dan minuman bisa ditoleransi, tetapi jika ada yang mengambil barang-barang lain, menggunakan kesempatan ketika terjadinya kesempitan tentu sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Katanya, pemerintah membolehkan warga korban gempa dan tsunami di Palu mengambil barang-barang yang ada di supermarket karena situasi darurat, sedang bantuan belum bisa masuk ke lokasi. Menteri Dalam Negeri,Tjahyo Kumolo berucap, korban bencana yang sakit perlu bantuan segera makanan dan minuman, tapi toko semua tutup, runtuh, listrik mati.

Pemda memfasilitasi warga korban bencana mengambil atau membeli makanan dan minuman di toko yang masih berjualan. Cari yang punya toko, dibeli dulu, dengan pengawasan satpol PP dan Polri. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), menilai keputusan ini tidak mendidik, seharusnya berkoodinasi lebih dahulu dengan manajemen, pemilik usaha atau Aprindo sebagai asosiasi. Pemerintah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk bertindak di luar tata kerama, etika, multi tafsir dan kurang berbudaya.

Sudahlah, itu yang terjadi; tidak usah menyalahkan dan diperpanjang, yang penting, apa yang bisa kita perbantukan untuk menolong saudara-saudara kita itu.

Orang beragama, memandang terjadinya bencana haruslah lewat kacamata iman, bahwa semua itu terjadi adalah atas kehendak Sang Pencipta dan Pengatur alam ini, Dia ingin memperlihatkan sifat qahhar (keperkasaan)-Nya dan membuktikan ke-dhaif-an (kelemahan) manusia yang barangkali pernah angkuh di hadapan-Nya.

Bayangkan, gempa itu terjadi di satu kawasan dan hanya beberapa menit; begitu banyak korban dan begitu dahsyat akibatnya, sungguh mengerikan. Bagaimana kalau gempa itu terjadi serentak di mana-mana. Bagaimana kalau terjadi bukan dua tiga menit, tapi satu jam umpamanya.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved