Berita Banjar

Penjelasan Pemkab Banjar Terkait Optimasi Lahan Rawa Lebak yang Dituding Sebabkan Kekeringan 2 Desa

Penjelasan Terkait Optimasi Lahan Rawa Lebak 500 Hektare yang Dituding Sebabkan Kekeringan Dua Desa

Penjelasan Pemkab Banjar Terkait Optimasi Lahan Rawa Lebak yang Dituding Sebabkan Kekeringan 2 Desa
istimewa/ kiriman M Fachry
Groundbreaking cetak lahan 100 hektare di Kabupaten Banjar oleh Bupati Banjar, H Khalilurrahman beberapa waktu lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Kegiatan optimasi lahan rawa lebak 500 hektare di Kabupaten Banjar dituding jadi penyebab terjadinya kekeringan di dua desa yakni Kertakbaru dan Pekaumandalam. Pasalnya pembangunan tanggul menutup aliran Sungai Kartasuta.

Mengenai hal itu, Kepala Dinas Tanaman pangan dan Holtikultura Kabupaten Banjar, M Fachry angkat bicara.

Kepada Banjarmasinpost.co.id, dia menjelaskan, kelompok tani sudah memberitahukan dan mengetahui kemungkinan akan ada protes warga di desa, tetapi protes warga akan ditangani oleh kepala desa.

“Selain itu penutupan hanya sekadar mengembalikan peran Handiljepang yang ada tanggulnya,” katanya, Jumat (5/10).

Berdasarkan keterangan dari kelompok tani setempat, Fachry mengatakan, saluran kering yang dimasalahkan itu karena warga pekauman mau tetap berair perlu untuk jamban.

Baca: Gara-gara Ratna Sarumpaet, Dorce Gamalama dan Ingrid Kansil Berseteru? Anak Jokowi Pun Komentar

Baca: Wali Kota Ini Dicoret dari Tim Kampanye Jokowi-Maruf Amin di Pilpres 2019, Ini Alasannya

Padahal Pemkab sudah membantu membuat jamban di darat, dan tidak lagi memanfaatkan jamban di sungai hingga akhirnya tanah urukan tersebut sudah dijebol sendiri oleh warga pekauman.

Dia menjelaskan, desain tanggul keliling awalnya tidak ada penutupan akses air dari handil jepang menuju sungai Kertasuta, karena berada diluar tanggul keliling poktan Pesayangan.

Penanggulan tersebut merupakan inisiatif dari kelompok tani desa Pesayangan, karena menurut meraka awalnya tanggul tersebut memang ada dulunya dan mau dikembalikan seperti semula.

Berdasarkan penuturan Kelompok Tani Desa Pesayangan, Fauzi lanjut Fachry, dengan tidak adanya tanggul aliran air dari Handiljepang masuk melalui sungai Kertasuta tersebut, masuk ke wilayah Pesayangan yang menyebabkan air di Pesayangan tidak bisa terdrainase maksimal.

Sebelum melakukan penanggulan tersebut, warga Pesayangan dalam hal ini kelompok tani sudah berkonsultasi dengan konsultan dan dinas.

Halaman
12
Penulis: Hasby
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved