Tajuk

Saring Sebelum Sharing

Warga pun seringkali terbantu dengan cepatnya informasi yang bisa langsung didapat dengan hanya mengetikkan

Saring Sebelum Sharing
GeekInsider.com
Google, Chrome 

DI era search enggine (mesin pencarian) ala Google seperti sekarang ini, informasi dapat menyebar dengan cepat tanpa batas.

Warga pun seringkali terbantu dengan cepatnya informasi yang bisa langsung didapat dengan hanya mengetikkan sejumlah kata di mesin pencarian.

Informasi yang menyebar cepat tentu menjadi salah satu solusi bagi warga di dunia maya maupun nyata untuk memenuhi kehausan keingintahuannya terhadap suatu kejadian.

Dalam seminggu terakhir, sejumlah momentum muncul di Indonesia. Mulai gempa di Donggala dan tsunami di Palu Provinsi Sulawesi Tengah, Gunung Anak Krakatau serta Gunung Soputan yang meletus dan mengeluarkan lava serta dinamika Pemilihan Presiden 2019.

Beragam informasi bermunculan. Tak hanya dalam bentuk pemberitaan di mesin pencarian, informasi pun dengan cepat menyebar melalui sosial media.

Misalnya Facebook, Instagram, Whatsapp dan banyak lainnya. Saking cepatnya, kadang informasi yang ada di dalamnya ada yang berlebihan bahkan meresahkan.

Khusus dalam momentum bencana alam, banyak beradar informasi hoaks, tidak sesuai fakta di lokasi kejadian.

Maraknya hoaks langsung disikapi cepat oleh polisi. Adalah netizen berinisial M yang diamankan karena diduga menyebarkan hoaks terkait bencana alam. M ditangkap di Pekanbaru, Rabu (3/10) siang.

“Ditangkap karena pada 2 Oktober 2018 telah mem-posting tulisan hoaks prediksi BMKG bahwa Jakarta dan Jawa sekitarnya akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan 8,6 skala Richter,” demikian keterangan tertulis dari Bareskrim Polri, Kamis (4/10/2018).

Selain M, polisi menangkap perempuan berinisial MM di Surabaya, Jawa Timur, di hari yang sama. MM ditangkap di hari yang sama karena mem-posting informasi hoaks akan adanya gempa 8,9 skala Richter di Pulau Jawa, khususnya Jakarta.

“MM ditangkap di Surabaya, pukul 13.40 WIB, karena pada Jumat, 24 Agustus 2018, telah mem-posting konten berita hoaks gempa megathrust Pulau Jawa dan sangat mungkin terjadi di Jakarta diperkirakan berkekuatan 8,9 SR,” kata Bareskrim Polri dalam keterangan tertulis.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka. Dengan ditangkapnya M dan MM, jumlah penyebar hoax bencana alam yang telah ditangkap aparat adalah 8 orang, sejak 2 Oktober 2018.

Selain tentang bencana, hoaks juga sempat disebarkan oleh aktivis perempuan Ratna Sarumpaet. Warganet dan sejumlah tokoh elite politik gaduh karena pengakuan Ratna Sarumpaet yang dianiaya hingga mengalami luka dan lebam. Meski sudah mengakui menyebar berita hoaks dan meminta maaf, namun polisi menegaskan akan tetap melanjutkan proses hukum penyebaran hoaks yang terjadi.

Dari semua contoh kasus di atas, alangkah baiknya warganet lebih bijak menggunakan akun sosial media yang dimiliki. Ini jadi pembelajaran bagi semua bahwa menyebarkan informasi tak bisa lagi sembarangan. Saat menerima informasi, jangan langsung dibagikan (sharing). Namun sebaiknya disaring, konfirmasi maupun tabayyun terlebih dahulu memastikan kebenarannya sebelum dibagikan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved