Esai Zulfaisal Putera: Orang Sombong Dilarang Berpuisi?

Tersebab puisi senjatanya adalah kata dan kata digunakan untuk melampiaskan apa yang ada dalam pertimbangan pikiran penyairnya.

Esai Zulfaisal Putera: Orang Sombong Dilarang Berpuisi?
istimewa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ada-ada saja pernyataan rekanku dari sebuah kepulauan di Indonesia Timur bahwa puisi sejatinya hanya untuk orang-orang yang baik hati dan tidak sombong.

Bagaimana mungkin, katanya, orang yang buruk hati dan sombong mampu menyuarakan kebenaran melalui puisinya. Apalagi memilih diksi-diksi yang mampu mewakili kebenaran itu.

Bukankah puisi boleh menyuarakan apa pun, rayuan, pujian, kemarahan, sindiran, bahkan cacian. Iya, tapi itu isi puisinya, bukan penyairnya. Bukankah puisi boleh menggunakan diksi yang asumtif, peyoratif, bahkan provokatif. Bebas-bebas saja.

Tersebab puisi senjatanya adalah kata dan kata digunakan untuk melampiaskan apa yang ada dalam pertimbangan pikiran penyairnya.

Ambil contoh dalam kehidupan di luar puisi. Apa seorang polisi yang menangkap penjahat itu hatinya buruk dan sombong? Atau hakim yang menjatuhkan hukuman bertahun-tahun bahkan vonis mati itu tak berperasaan?

Atau, apa seorang ustadz yang menceritakan sadisnya neraka sebagai tempat hukuman manusia yang berdosa itu punya hati yang sadis juga?

Inilah penggalan esai Zulfaisal Putera berjudul Orang Sombong Dilarang Berpuisi? Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi, Minggu (07/10/2018).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help