Gempa Donggala

Rimbunan Bakau Selamatkan Dosen Universitas Tadulako Palu dan Keluarga dari Tsunami

Seusai gempa, mereka melihat air laut di depannya tiba-tiba surut sejauh 100 meter. Dalam pikirannya, tsunami akan menerjang.

Rimbunan Bakau Selamatkan Dosen Universitas Tadulako Palu dan Keluarga dari Tsunami
ant via kompas.com
Suasana pemukiman yang rusak akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALU – Ribuan orang meninggal, ribuan orang hilang, ribuan orang terpaksa mengungsi pascagempa dan tsunami di Palu dan Donggala Sulteng, Jumat (28/9/2018) lalu.

Bencana tsunami dan gempa dengan magnitudo 7,4 masih membekas dalam ingatan bagi para korban yang selamat, salah satunya, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako Palu, Sitti Ramlah.

Kepada Kompas.com, Ramlah menceritakan, ia dalam perjalanan dari Mamuju menuju Palu untuk menemui keluarganya di Jalan Basuki Rahmat.

Saat dalam perjalanan di daerah Loli, antara kota Palu dan Donggala, salah seorang anaknya minta untuk berhenti istirahat.

“Singgahlah kami di Loli di Masjid, anak saya masuk toilet, kami menunggu di depan, tiba-tiba gempa terjadi, kami semua berangkulan di pinggir jalan sambil menunggu keadaan aman,” katanya, Minggu (07/10/2018).

Baca: Hasil Mitra Kukar vs PSM Makassar di Liga 1 2018 - Skor 1-3 di Babak Pertama

Baca: Prabowo, Fadli Zon, Amien Rais Bisa Terseret Kasus Ratna Sarumpaet? Mahfud MD : Ada Kemungkinan

Saat gempa selesai terjadi, mereka melihat air laut di depannya tiba-tiba surut sejauh 100 meter. Dalam pikirannya, tsunami akan menerjang.

“Perjalanan kami lanjutkan sekitar 10 menit, tapi pas sudah penurunan di Loli saya lihat air sudah surut jadi mobil saya kasih berhenti, terus kami sempat kasih berhenti kendaraan yang lain. Tak lama berselang, air laut kembali naik dengan deras mengguncang, kami melihat semuanya telah terendam, rumah-rumah warga tersapu, warga berteriak, air terus saja naik, kami hanya bisa mengucap Allahu Akbar,” ucapnya.

Dia mengatakan, durasi waktu antara air surut hingga kembali naik berlangsung singkat. “Dari air surut sampai naik kembali atau tsunami itu kurang dari 5 menit. Semuanya serba sangat cepat,” ujarnya.

Di sekeliling Ramlah, airpun terus meninggi dengan deras. Saat ia singgah di pinggir jalan, di hadapannya ada rimbunan bakau atau mangrove.

“Tumbuhan bakau yang berlapis tiga tempat kami berhenti membuat kami selamat dari terjangan tsunami, material yang terangkut berupa kayu semuanya terhalang oleh mangrove. Kami hanya bisa perpegangan dan berdoa semoga badai segera berlalu, anak-anak kami sudah menangis dan ikut berdoa,” sebut Ramlah.

Baca: Anak Kambing Bermata Satu di Wonogiri Hanya Berumur 12 Jam, Pemilik Sempat Suapi Pakai Cangkir

Baca: Penjelasan Resmi BNPB Terkait Likuefaksi yang Lenyapkan 3 Permukiman Usai Gempa Donggala Sulteng

Kondisi saat itu sangat mencekam. Ramlah mengaku tidak bisa berbuat apa apa lagi. Ia menelepon keluarganya, namun tidak ada sinyal, listrikpun mati. Warga berhamburan sambil berlarian, bahkan ada yang meminta pertolongan.

“Kami terpaksa kembali ke Mamuju karena melihat suasana sudah hancur, di perjalananpun kami menemui hambatan, jalan rusak pecah berlubang akibat gempa, ada warga yang terhempas dan meminta pertolongan, kami sempat menolong pengendara motor yang hampir hanyut ke laut karena terhalang material,” paparnya.(Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rimbunan Bakau Selamatkan Ramlah dari Tsunami Palu"
(Penulis : Kontributor Kompas TV Luwu Palopo, Amran Amir)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help